Archive for February 6th, 2008
Meninggalnya Soeharto dan Ujian Reformasi
Kalau kita mau mencermati, ada fenomena menarik di balik meninggalnya mantan Presiden Kedua Republik Indonesia Soeharto pada Minggu, 27 Januari 2008. Terlepas dari ajaran salah satu agama untuk menyebut kebaikan orang yang telah meninggal, banyak komentar-komentar masyarakat baik terpelajar maupun awam yang justru lebih banyak porsi tentang kebaikan-kebaikan masa kepemimpinan Soeharto dari kebaikan-kebaikan Soeharto secara pribadi.
Salah satu yang kurang bisa saya pahami adalah komentar-komentar masyarakat pada hampir seluruh media masa baik cetak maupun elektronik yang mengatakan bahwa masa kepemimpinan Soeharto jauh lebih baik dibandingkan dengan masa kepemimpinan pasca reformasi, termasuk masa kepemimpinan sekarang (Presiden SBY). Pernyataan masyarakat ini cenderung pragmatis seperti seperti membandingkan terjadinya kenaikan harga saat sekarang dibandingkan dengan harga-harga pada masa Soeharto. Pernyataan ini menurut saya adalah pernyataan bernada penyesalan terhadap reformasi yang terjadi pada Mei 2008 yang berhasil menggulingkan rezim Soeharto. Selain itu, pernyataan seperti ini berpotensi semakin menambah ketidakpercayaan masyarakat terhadap kepemimpinan saat ini di mana pada saat sekarang kepercayaan masyarakat justru sangat dibutuhkan pemerintah untuk menyelesaikan berbagai permasalahan yang dihadapi.
Bagaimanapun, reformasi yang telah terjadi tidak perlu disesalkan. Banyak sekali manfaat yang bisa kita peroleh dari reformasi yang terjadi pada tahun 1998 seperti tumbangnya rezim kepemimpinan yang korup serta terbukanya suasana demokratis di negeri ini. Memang, reformasi terkadang tidak selalu berakhir dengan kemenangan secara langsung namun reformasi akan terus berlangsung untuk menemukan masa terbaiknya. Jadi, alih-alih menyebut kebaikan masa Soeharto, masyarakat jangan sampai menebar opini yang bisa membuat suasana kontraproduktif terhadap masa sekarang. Jika banyak dijumpai kebaikan-kebaikan di masa Soeharto, maka sangat mungkin untuk mewujudkan masa sekarang lebih baik dari masa Soeharto jika masyarakat dan pemerintah saling memercayai dan terus bekerja sama.
Mu51b4h B354r
H4ri 1n1 4ku d4p4t mus1b4h. Aku d4p4t C untuk 4kuntan51 b1aya. Aku 5ud4h t4u kesal4h4nku:
T1D4K MENG3RJ4K4N SO4L D3N64N B3N4R
T4p1 sant41 54j4, 1n1 mat4 kul14h y4n6 kur4n6 s16n1f1kan d4l4m 5tud1ku. M35k1 ny353l ju64 64 d4pat 4.
Ini hasil tulisan yang dikonvert menggunakan ABG Generator
Muhammad bin Idris As-Syafi’i (Part II)
Berkelana demi Ilmu
As-Syafi’i gemar sekali mengadakan perjalanan demi menemui ulama dan menimba ilmu dari mereka. Di sana ia belajar, mendengar sastrawan dan penyair serta melihat kondisi umat Islam. Ia berkata:
”Tidak ada tempat bagi orang-orang cerdas dan beradab untuk istirahat. Maka tinggalkanlah kampung halaman dan merantaulah! Engkau pasti akan mendapat ganti atas apa yang engkau tinggalkan.
Dan gatilah pekerjaan dengan yang baru, karena kelezatan hidup ada dalam pekerjaan baru. Aku melihat bahwa air yang menggenang itu akan rusak. Jika air itu mengalir maka akan baik. Sementara jika ia menggenang akan rusak.” Read the rest of this entry »