Santri Metropolis

Belajar Menjadi Bijak

Archive for November 2008

Menggagas Sistem Nilai Tukar Uang Islam

without comments

Sejarah mencatat, dalam sistem moneter Internasional pernah dikenal tiga macam sistem nilai tukar mata uang (kurs valas). Tiga sistem tersebut adalah Fixed Exchange Rate System, Floating Exchange Rate System dan Pegged Exchange Rate System.

Era fixed exchange rate system ditandai dengan berlakunya Bretton Woods System sejak 1 Maret 1947. Sistem ini menuntut agar nilai suatu mata uang dikaitkan atau convertible terhadap emas atau gold exchange standard. Pada waktu itu, mata uang dolar AS menjadi acuan (numeraire), di mana semua mata uang yang terikat dengan sistem ini dikaitkan dengan USD. Untuk mencipta uang senilai $35, Federal Reserve Bank (Bank Sentral Amerika) harus mem-backup dengan emas senilai 1 ounce atau 28,3496 gram. Dengan demikian, nilai mata uang secara tidak langsung dikaitkan dengan emas melalui USD.
Namun ternyata, The Fed tergiur mencipta dollar melebihi kapasitas emas yang dimiliki. Akibatnya, terjadi krisis kepercayaan masyarakat dunia terhadap dolar AS. Hal tersebut ditandai dengan peristiwa penukaran dollar secara besar-besaran oleh negara-negara Eropa. Adalah Perancis, pada masa pemerintahan Charles de Gaule, negara yang pertama kali menentang hegemoni dollar dengan menukaran sejumlah 150 juta dollar AS dengan emas. Tindakan Perancis ini kemudian diikuti oleh Spanyol yang menarik sejumlah 60 juta dollar AS dengan emas. Praktis, cadangan emas di Fort Knox berkurang secara drastis. Ujungnya, secara sepihak, Amerika membatalkan Bretton Woods System melalui Dekrit Presiden Nixon pada tanggal 15 Agustus 1971, yang isinya antara lain, USD tidak lagi dijamin dengan emas. ‘Istimewanya’, dollar tetap menjadi mata uang internasional untuk cadangan devisa negara-negara di dunia. Pada titik ini, berlakulah sistem baru yang disebut dengan floating exchange rate.

Floating exchange rate atau sistem kurs mengambang adalah sistem yang ditetapkan melaui mekanisme kekuatan permintaan dan penawaran di bursa valas dan sama sekali tidak dijamin logam mulia. Pemerintah melalui Bank Sentral bebas menerbitkan sejumlah berapapun uang. Hal inilah yang menyebabkan nilai mata uang cenderung terdepresiasi, baik terhadap mata uang kuat (hard currency) maupun terhadap harga barang. Kondisi ini kemudian diperparah oleh aksi spekulan yang mengakibatkan nilai mata uang berfluktuasi secara bebas. Meski bisa dikendalikan melalui intervensi—yang dikenal dengan managed floating, otoritas pemerintah suatu negara cenderung menghindari hal ini karena membutuhkan sumber daya yang sangat besar yang berupa cadangan devisa. Berakhirnya fixed exchange rate dan bermulanya floating exchange rate, konon ditengarai sebagai awal dari berbagai rangkaian kesulitan moneter yang dikenal dengan “krisis moneter internasional” (Hamdy Hady, 2001). Sistem yang ketiga, pegged exchange rate ditetapkan dengan jalan mengaitkan mata uang suatu negara dengan mata uang negara lain atau sejumlah mata uang tertentu yang biasanya merupakan mata uang kuat (hard currency). Sistem ini pernah dijalankan antara lain oleh negara-negara Afrika serta Eropa. Secara hakikat, sistem ini tak jauh beda dengan floating exchange rate system. Hal ini dikarenakan mekanisme hard currency sebagai mata uang yang dipagu (pegged) masih ditentukan melalui kekuatan supply dan demand pada bursa valas dalam hal mata uang yang dijadikan sebagai acuan.

Sistem Moneter Islam

Pertanyaannya, dari ketiga sistem moneter di atas, manakah yang sesuai dengan konsep ekonomi Islam? Beberapa argumen muncul. Yang paling dianggap benar, namun sering dianggap radikal bahkan oleh pengusung ekonomi Islam sendiri adalah kembali menggunakan mata uang fisik dinar dan dirham (full bodied money). Yang moderat mengusulkan supaya mata uang sekarang agar di-backup dengan emas sebagaimana Bretton Woods. Sedangkan yang paling lunak adalah sebagaimana seperti adanya sekarang, hanya bagaimana pemerintah mengatur supaya tidak ada lagi unsur maghrib (masyir ‘spekulasi’, gharar ‘penipuan’ dan riba) dalam sistem moneter yang berlaku. Dari ketiga usulan itu, penulis dengan tegas menolak yang disebutkan terakhir berdasarkan kenyataan bahwa sistem moneter yang ada sekarang memungkinkan pihak yang mengejar keuntungan pribadi melakukan aksi maghrib tersebut. Terbukti, betapapun pemerintah menghimbau para spekulan, aksi spekulasi di bursa valas masih tetap gencar.

Adapun alternatif yang pertama, saat ini akan (masih) sulit diwujudkan. Kesulitan ini terutama karena dinar dan dirham—meski sebenarnya merupakan mata uang dari luar Islam yaitu Romawi dan Persia—telah dicitrakan sebagai mata uang Islam. Menurut penulis, seandainya negara-negara Islam mengusulkan kepada dunia untuk menggunakan dinar dirham, akan banyak penolakan terutama Barat yang phobia terhadap Islam.

Dengan begitu, peluang terbesar ada pada usulan moderat, yaitu agar mata uang-mata uang sekarang kembali di-backup dengan emas—tentu dengan beberapa penyempurnaan dari system sebelumnya (Bretton Woods). System inilah yang oleh kalangan barat ingin kembali digulirkan yang dikenal dengan istilah Bretton Woods II. Usulan ini bahkan didukung oleh nama-nama besar seperti Joseph E. stiglitz (Ekonom Peraih Nobel dari Amerika), Gordon Brown (PM Inggris) hingga Nicholas Sarkozy (Presiden Perancis).

Keunggulan Gold Exchange Standard

Ada beberapa alasan mengapa mesti kembali pada gold exchange standard daripada sistem nilai tukar yang lain. Pertama, jumlah uang yang beredar di masyarakat bisa terkendali dengan baik dan tidak merajalela sebagaimana sekarang. Kondisi ini pada gilirannya akan mempertahankan kestabilan nilai tukar mata uang yang merupakan kondisi yang kondusif bagi perekonomian.

Kedua, dengan menggunakan gold exchange standard, perekonomian suatu Negara secara otomatis bisa melakukan mekanisme penyesuaian (adjustment) posisi BOP (Balance of Payment), yakni kembalinya posisi neraca pembayaran pada kondisi equilibrium bahkan surplus. Mekanisme ini sebagaimana dijelaskan oleh David Hume yang dikenal dengan “price specie flow mechanism” sebagai berikut. Ketika suatu negara mengalami defisit BOP, persediaan emas turun karena lari ke luar negeri. Larinya emas ke luar negeri berakibat turunnya money supply domestik yang disertai dengan turunnya harga-harga barang. Akibatnya, harga barang dalam negeri menjadi kompetitif yang pada gilirannya akan kembali meningkatkan ekspor pada kondisi semula atau bahkan lebih besar.

Ketiga, keuntungan mengunakan gold exchange standard adalah bahwa emas secara instrinsik menjaga nilainya dari fluktuasi bebas sebagaimana mata uang kertas. Untuk melakukan transaksi perdagagan, gold standard tidak memerlukan hedging yang pada hakikatnya merupakan barrier bagi perdagangan.

Beberapa Catatan

Di depan telah disinggung bahwa perlu adanya upaya penyempurnaan dari system Bretton Woods jika nantinya Bretton Woods II ingin kembali diwujudkan. Pertama, mata uang yang dipakai sebagai standar (numeraire) bukanlah mata uang negara atau kelompok negara tertentu karena cenderung terjadi hegemoni dari negara yang mata uangnya dijadikan sebagai standard tersebut sebagaimana kasus USD. Mata uang numeraire adalah mata uang independen yang diakui secara internasional.

Kedua, harus ada kontrol ketat bahwa untuk menciptakan mata uang standar tersebut harus tersedia emas yang memadai yang disimpan pada otoritas keuangan internasional. Selain itu, otoritas moneter internasional tersebut harus merupakan representasi seluruh negara di dunia, bukan corong kelompok kekuatan tertentu.

Written by ukasbaik

November 28, 2008 at 12:59 am

Posted in Artikel

Tagged with , ,

Etika Berbicara di depan Publik

with one comment

Kamis sore, saya mengikuti sebuah seminar di sebuah kampus negeri. Sebenarnya, waktu itu adalah waktu kuliah. Karen dosen mata kuliah yang bersangkutan kebetulan menjadi narasumber, jadilah kami (saya dan teman sekelas) peserta ’istimewa’ seminar tersebut. Ya, istimewa karena kami tidak perlu mendaftar, tapi sebagian dari kami bisa dapat tempat duduk paling depan. Istimewa juga karena tidak perlu membayar biaya pendaftaran, tetapi mendapat jatah konsumsi..:-). Namun sial bagi saya dan teman-teman yang datang terlambat. Kami tidak mendapat tempat duduk. It’s ok. Orang yang terlambat memang pantas untuk tidak mendapat tempat duduk.

Seminar itu membahas tentang tantangan ekonomi Islam menghadapi Krisis Ekonomi Global. Sebuah tema yang sangat menarik, berat, bahkan membuat sebagian orang yang mendengarnya mungkin akan mengerutkan kening. Apalagi bagi mereka yang awam dengan ekonomi Islam. Karena ternyata, di luar sana—maksudku di luar kampus ekonomi Islam ini, banyak sekali makhluk bernama manusia yang masih sangat awam dengan ekonomi Islam. Bagi saya, kondisi ini membuat saya beruntung (bukan karena nama saya Untung) hidup di kampus Ekonomi Islam tertua kedua di Indonesia (menurut teman saya: Haritsma). Posting ini sama sekali tidak bertujuan membahas isi seminar. Akan tetapi, menyoroti bagaimana prosesi seminar tersebut.

Bagi peserta yang sudah mengetahui bagian paling dasar (elementer) dari ekonomi Islam, apalagi bagi kami yang setiap hari memang mengkaji ekonomi Islam di dalam kelas (maaf, sama sekali tidak bermaksud sombong), materi yang disampaikan dalam seminar tersebut adalah materi yang sering kami bahas di kelas. Wal hasil, kami seperti merasa di rumah sendiri, hanya dalam sekup yang lebih besar, kurang lebih 200 orang. Bagi saya, pemateri makalah (dosen saya dan seorang lagi yang katanya mantan Presnas (Presidium Nasional) FoSSEI (Forums Silaturahim dan Studi Ekonomi Islam) sangat tepat dengan menjelaskan logika dasar dari ekonomi Islam, mengingat bahwa para peserta adalah awam.

Yang menarik perhatian saya adalah ketika salah seorang peserta, teman saya sendiri ’mengkritik’ (untuk tidak dikatakan sebagai ’menjatuhkan’). Beliau mengatakan kepada pemateri bahwa materi yang disampaikan kurang substansial dan tidak meninggung akar masalah sebenarnya, yang menurut saya justru sebaliknya. Pernyataan seperti ini menurut hemat saya, memiliki dampak yang kurang baik (untuk tidak dikatakan sebagai negatif). Ok. Bahwa menurut beliau materi yang disamapaikan tidak substansial adalah benar jika beliau berbicara dalam kapasitasnya sebagai pengkaji ekonomi Islam. Untuk beliau, jika membaca posting ini saya sarankan, ”kalau menginginkan pembahasan masalah yang lebih sering-seringlah antum ikut kajian”. Jadi tidak timpang dengan peserta lain. Pernyataan beliau bahwa pembicara kurang substansial, lagi-lagi menurut hemat saya bisa mengurangi kredibilitas dosen tersebut di mata publik, karena secara tidak langsung al akh mengatakan bahwa pembicara dibayar untuk mengatakan sesuatu yang mubazir. Padahal setelah saya cek, ternyata pembicara (sang dosen) sudah sangat tepat menyampaikan apa yang seharusnya beliau sampaikan. Karena, materi beliau akar krisis global tapi lebih ke arah ’bisnis (entrepreneur) sebagai alternatif dalam kondisi krisis’. Yang seharusnya menyampaikan akar krisis global memang menjadi tugas pembicara yang kedua.

Sebagai penutup, saya mengajak kepada seluruh pembaca, blogger, netter dan sejenisnya, agar lebih bijak ketika kita ingin berbicara atau berpendapat di depan publik. Setiap orang memang memiliki hak untuk berbicara, sepanjang tidak menyinggung orang lain, apalagi dalam kontek yang ’diserang’ adalah pembicara utama. Apalagi, kita berbicara dalam forum yang sangat-sangat Islami. Afwan (maaf) jika posting ini menyinggung pihak-pihak tertentu.

Written by ukasbaik

November 21, 2008 at 4:31 am

Posted in Kisah

Tagged with ,

Urgently Required

without comments

Ko kaya lowongan di kompas aja…:)

Ya, memang ini benar-benar sebuah lowongan yang membutuhkan banyak orang. Bahkan aplikasinya tidak dibatasi hingga waktu tertentu. Persyaratannya mudah, siapa saja boleh mendaftar. Dari lulusan S3 sampai tidak mengenyam bangku pendidikan formal sekalipun. Tidak membutuhkan gelar sarjana atau harus memiliki pengalaman di bidangnya.

Di era krisis global seperti sekarang, pekerjaan sulit didapatkan. Yang sudah dapat pekerjaan, sulit untuk dipertahankan. Tengok saja, Amerika, yang katanya negara Adi daya, ternyata tak berdaya. PHK di mana-mana dan jutaan banyaknya. Perusahaan-perusahaan besar dunia, yang kita tak pernah terbayangkan sebelumnya ternyata collaps. Krisis menjalar ke seluruh dunia. Maka, tidak mustahil bagi Anda yang kini bekerja di perusahaan yang bonafit sekalipun (maaf saya gak bermaksud mendoakan), peluang PHK senantiasa terbuka!

Lalu, masih adakah lowongan yang membutuhkan banyak orang di saat krisis begini? Jawabannya ada. Dahsyatnya, lowongan pekerjaan ini tidak membatasi jumlah pendaftar. Ribuan bahkan hingga jutaan orang sekalipun.

Terus apa lowongannya? Eit, tunggu dulu. Ga usah buru-buru kaya gitu donk:). Tunggu jawabannya pada posting mendatang…:)

Written by ukasbaik

November 14, 2008 at 3:39 am

Posted in Uncategorized

Tagged with ,

Contoh Pelanggaran dan Sanksi di dalam Perpustakaan

without comments

Tadi aku habis googling tentang pelanggaran dan sanksi di dalam perpustakaan dari perpustakaan sebelah, UBL. Sekedar sharing aja, siapa tahu bisa diterapkan di Perpustakaan SEBI tercinta ini..:)

Larangan
Pelanggaran dan sanksi

Jenis

Sanksi

  • Memakai sandal.

Tidak boleh masuk ruang perpustakaan

  • Membuat gaduh.
  • Tidur.
  • Makan dan minum
  • Menggunakan fasilitas perekam untuk mengeksploitasi karya tulis yang menyebabkan pelanggaran hak cipta serta mengarah kepada penjiplakan (plagiarisme)
  • Membuang sampah sembarangan
  • Memakai pakaian yang tidak sopan
  • Merokok
  • Membuka web site atau situs pornografi dan game.

Dikeluarkan dari ruangan perpustakaan

  • Menggunakan Kartu mahasiswa orang lain untuk transaksi di perpustakaan

Tidak diperbolehkan meminjam koleksi selama 1 bulan

  • Berbuat asusila dan berkelahi di dalam perpustakaan

Dikeluarkan dari perpustakaan dan sanksi akademik

  • Merobek, menyilet, mencuri atau merusak koleksi perpustakaan

Dicabut keanggotaan perpustakaan dan dikenai sanksi akademik

Written by ukasbaik

November 11, 2008 at 9:09 am

Posted in Hot

Tagged with ,

Sebuah Catatan Kenangan: Menentang Kediktatoran Kampus

without comments

Kontributor: Saidurrahman (Ketua BEM Politeknik Gajah Tunggal 2006-2007)

“Innalillahi….,”

Kudengar desis tersebut keluar dari bibir Zeal. Termasuk aku, dalam hati kami semua tertanam rasa benci yang sangat dalam kepada pihak kampus atas adanya efek yang nggak kami semua harapkan.

“Kita harus gimana Zeal?” tanyaku kemudian.

“Akh, antum kan ketua DEMA. Malam ini kita harus koordinasi internal. kesewenangan yang makin menjadi ini tak bisa dimaafkan,” jawab Zeal berapi – api.

Rasa kesal yang membuncah akhirnya membuatku kabur dari materi olahraga sore ini di kampus. Betapa tidak seperti tadi yang kuungkapkan, kesewenangan pihak kampus terhadap kami , anak – anak desa yang “dijaring” lewat seleksi ketat untuk mengikuti pendidikan kedinasan, semakin menjadi – jadi.

Mungkin ini puncak dari semuanya. Dua teman kami, yang sama – sama kami berjuang untuk mengharumkan nama baik Politeknik Gajah Tunggal, kampus yang kami sayangi, serta nama baik Gajah Tunggal Grup sebagai institusi tempat kami bernaung dan menimba ilmu, harus di DO dengan tidak hormat.

Tentu dengan alasan, yang bagi kami merupakan alasan yang sangat di cari – cari dan dibuat – buat. Bisa dibilang FITNAH. Hingga wajar saat melihat wajah Wilders, pembuat film FITNA, kembali terbayang dibenakku wajah direktur dictator di kampus kami yang sekarang entah dibuang kemana. MIRIP.

Untung Kasirin dan Indar Dwi Basuki. Bendahara dan Ketua Tim KRI Politeknik Gajah Tunggal (selanjutnya disingkat Poltek GT) tersebut harus menelan pil pahit atas ketidak senangan Mr Big (sorry – disamarkan)  terhadap mereka.

12 Juni 2006 Surat Keputusan DO itu turun. Surat yang kami bilang aneh karena tak seperti SK DO sebelum – sebelumnya. Tak ada keputusan mengganti sejumlah uang atas ditempuhnya masa belajar di kampus, bahkan terdapat kata – kata yang mengizinkan revisi atas SK DO tersebut jika terjadi hal – hal yang tidak diinginkan yang berakibat SK DO tersebut kami rasa tidaklah kuat.

Perjuangan Tim KRI Poltek GT sudah dimulai dua tahun sebelumnya oleh dua angkatan kakak tingkat kami. Mungkin karena kehendak Allah SWT, baru di kali ketiga dan artinya di angkatan kami tim KRI Poltek GT bisa lolos berbagai verifikasi hingga akhirnya berhak maju ke pertandingan kualifikasi di Balairung UI bulan Mei 2006.

Sebuah perjuangan yang melelahkan tentunya saat teman – teman kami tersebut berjibaku dengan kabel, obeng, baut, perangkat PLC, dynamo, joystick, dan peralatan pendukung lainnya. Menggambar, menghitung, hingga membuat rancang bangun sebuah robot yang layak untuk lolos dalam verifikasi.

Allah, tanpa petunjuknya mungkin tak bisa prestasi yang besar buat kampus yang bahkan terdengar pun tidak di kalangan penjual es di Jatake Tangerang. Masa – masa sulit mencari sponsor dana hingga tim KRI harus berhutang jutaan rupiah adalah perjuangan besar untuk mewujudkan mimpi kami semua, menunjukkan pada dunia bahwa kami adalah anak – anak terpilih dan anak – anak terbaik yang harus DIHARGAI.

Tak ada tanda – tanda mendukung penuh perjuangan kami dari kampus sepertinya saat sebelum kami dinyatakan lolos verifikasi. Aku sebagai ketua Dewan Mahasiswa (DEMA) terpilih yang saat itu belum sempat dilantik hanya karena terbentur birokrasi akibat posisi ketua DEMA yang lama sedang menempuh Praktek Kerja Lapangan (PKL) tak bisa diganggu gugat. Padahal masih berada dalam satu kompleks yang tak butuh 10 menit untuk datang ke kampus. Aku mencoba menggalang dana lewat subsidi dari uang saku yang kami semua terima, yah walupun tak seberapa jumlahnya dan tentu tak sebanding dengan tumpukan hutang yang harus dilunasi kewajibannya segera.

Tak banyak yang kami harapkan dari pihak kampus. Hanya kelonggaran birokrasi dan dispensasi atas masa magang industry yang harus kami lewati saja. Berbelit memang, dan seperti itulah kondisi di kampus kedinasan. Tapi sekali lagi Allah maha Adil. Perjuangan, doa, dan tetes – tetes keringat sahabat – sahabatku baik di Teknik Elektro maupun Teknik Mesin dibalasNya dengan lolosnya verifikasi awal.

Alhamdulillah….

Namun, kami tak boleh larut dalam senyum kepuasan atas ujian ini. Masih banyak yang harus kami benahi atas revisi kondisi robot kami. Waw, dan tentunya makin banyak dana yang harus dikeluarkan. Untunglah, pihak panitia menyediakan sejumlah uang untuk setiap tim yang lolos verifikasi yang dibayarkan setelah KRI selesai dilaksanakan. Ini artinya, kendati kami harus berhutang setidaknya ada ketenangan bahwa hutang tersebut bisa dibayar dari uang yang diberikan panitia tersebut.

Lolosnya babak verifikasi ini ternyata sedikit mebukakan mata pihak kampus terutama Mr Big. Entah ada apa dibalik semuanya, Mr Big berubah drastic menjadi perhatian pada aktivitas dan perjuangan kami menuju KRI Tingkat Nasional tersebut. Sebelumnya tak usah pembimbing, pendamping pun kami nggak punya. Selain karena tak mampu membayar, tentunya lebih ahsan bagi kami berkonsultasi dengan dosen – dosen kami.

Dimasa tersebut Mr Big segera membentuk tim khusus di kalangan dosen untuk mendampingi dan membimbing kami. Yah, akhirnya kami melihat sinar keseriusan dan dukungan penuh dari seluruh dosen – dosen kami. Dan Mr Big menggelontorkan sejumlah uang yang katanya tak perlu diganti nantinya untuk mendukung usaha kami.

Mengenai kesewenangan dan ketidak adilan Mr Big sepertinya tak perlu banyak diungkapkan. Yang hanya perlu diketahui bahwa sejak Mr Big menjabat sebagai direktur Poltek GT kegiatan yang berhubungan dengan kemahasiswaan menjadi SERET. Bahkan tak ada dana sedikitpun untuk pengembangan keorganisasian, UKM, dan Olah Raga. Sekedar contoh, untuk membeli bola basket dan bola voli, kami hanya mengandalkan sisihan dari uang saku yang tentunya tak seberapa. Termasuk untuk kegiatan lain seperti Dewan Mahasiswa, ROHIS, Koran Dinding.

Tak layak sepertinya disebut kampus karena seperti di tempat lainnya selalu ada alokasi dana kegiatan kemahasiswaan, di Poltek GT semasa kepemimpinan Mr Big begitu miskin aktivitas. Tapi sobat, tak seperti itu yang ada pada jiwa kami semua. Karena kuyakin bahwa teman – temanku di kampus tersebut adalah anak – anak berprestasi, kami masih bisa mengadakan acara – acara sejenis dauroh, mengikuti berbagai organisasi di luar kampus, dan sebagainya.

Ini tak lain karena kasih sayang dan support dari kakak tingkat kami yang sudah menjadi alumni dan sudah bekerja di lingkungan Gajah Tunggal Grup. Sebuah ikatan persaudaraan yang tak bisa diungkapkan dengan kata – kata. Walaupun demikian, harus kuakui dimasa Mr Big menjabat prestasi di berbagai bidang lewat beberapa kontes serta kompetisi nasional prestasi kami tak sebaik kakak – kakak tingkat kami dahulu.

Oleh karenanya, layak kami berbangga atas masuknya tim kami ke Babak Kualifikasi Kontes Robot Indonesi 2006 di Balairung Universitas Indonesia. Berjuang – bertarung dengan sahabat – sahabat kami di berbagai belahan Indonesia untuk mendapatkan tiket menuju ABU ROBOCON 2006 di Kuala Lumpur.

*           *            *

Malam belum tampak larut. Sehabis silaturrahim dengan alumni, aku, Zeal ketua ROHIS, serta fungsionaris DEMA dan Rohis angkatan sebelumnya berkumpul di musholla Lt.3 Gedung B Asrama kami untuk membicarakan reaksi yang akan kami berikan terhadap keputusan dan kesewenangan Mr Big.

Rapat yang juga terbuka untuk seluruh penguhuni Asrama tersebut ternyata berjalan alot. Aku tak menyangka sahabat – sahabatku yang lainnya begitu antusias. Aku rasa tak lain ini dilatar belakangi oleh rasa senasib dari kami semua sebagai anak – anak miskin di tanah perantauan.

Sobat tentu bisa membayangkan bagaimana nasib kedua teman kami yang dikeluarkan terlebih dengan alasan tak hormat yang tentunya akan menimbulkan fitnah di mana – mana. Akhirnya disepakati bersama bahwa esok kami akan mengadakan aksi menuntuk keadilan di lapangan basket kampus.

Pagi menyapa dengan cerah dibarengi dengan semangat  pemuda – pemuda tangguh yang telah berbaris rapi di halaman asrama. Subhanallah… aku tak menyangka sms jarkom yang dikirim ke seluruh mahasiswa 2 angkatan ternyata direspon sangat baik. Buktinya, 100 % mahasiswa angkatan 23 dan 24 dapat disatukan padahal tak semuanya tinggal di asrama.

“Assalamu’alaikum dan Semangat Pagi!!!” Gito, Koordinator Lapangan yang kutunjuk, memimpin barisan dan membuka apel pagi yang tak biasa ini dengan penuh semangat.

“Teman – teman, seperti yang kalian ketahui bahwa telah terjadi tragedy yang tidak kita semua inginkan yang diakibatkan kesewenangan Mr Big,” Gito mulai berorasi. “Karenanya hari yang indah ini, saya mengajak teman – teman semua untuk menorehkan sejarah memberantas segala tindak kelaliman yang terjadi di kampus kita. Hidup Mahasiswa!!!”

“Hidup Mahasiswa!!!”

Seketika halaman asrama menjadi bergemuruh oleh teriakan – teriakan penyemangat bahwa kami siap berperang

Written by ukasbaik

November 9, 2008 at 3:19 pm

Posted in Kisah

Tagged with , ,