Archive for the ‘Diariku’ Category
Kata Cinta
Beberapa hari belakangan, sering sekali saya menjumpai kata cinta; kulihat dengan mata, terdengar di telinga, dan kadang-kadang menghunjam di hati sanubari. Di kampus, di kosan, di Koran, di radio, di televisi, apa lagi di internet. Kata cinta ada di mana-mana. Banyak banget. Dan mungkin, kata cinta dan padanannya adalah kata yang paling banyak ditulis oleh manusia. Seandainya saja kita bisa menciptakan alat penghitung kata cinta……
Mungkin memang karena lagi musimnya kali. Musim cinta. Maklum, kata orang, ini kan bulan cinta. Atau, aku memang sedang jatuh cinta? Nggak juga. Ada apa ya dengan ‘cinta’?
Sebenarnya, seberapa sering sih saya menjumpai kata cinta? Baiklah kiranya Anda mencermati berikut ini dan cobalah untuk menghitung berapa kata cinta yang Anda temui.
Februari, kami memasuki masa liburan semester gasal. Yah, februari. Banyak orang bilang februari identik dengan bulan cinta. Maklum, pada bulan ini ada momen valentine day. Hari cinta katanya. Temenku, yang cukup sinis dengan valentine day bilang, itu cuma akal-akalan pasar aja. Momen bagi bisnis cinta dan pernak-pernik valentine panen keuntungan. Lebih parah lagi, valentine day merupakan momen maksiat, terutama bagi pasangan yang belum menikah. Sementara, aku malah lupa valentine day tanggal berapa…
Pada februari juga, konon pemutaran perdana film Ayat-ayat Cinta akan dilakukan. Film ini diangkat dari novel dengan judul yang sama karangan Habiburrahman Elshirazy (kang abik). Selain Ayat-ayat Cinta, dia juga penulis beberapa novel laris lainnya seperti Ketika Cinta Bertasbih, Ketika Cinta Berbuah Surga, Di Atas Mihrab Cinta, Di Atas Sajadah Cinta dan masih banyak lagi novel bertema cinta. Dan memang, dengan tema cinta-lah biasanya orang berkarya; menulis novel, syair, puisi, atau membikin lagu dan film. Bisa dibayangin berapa kata cinta bisa kita temui dalam kehidupan? Sampai di sini, sudah berapa Anda menemukan kata cinta?
Karena nggak punya budget buat nonton, saya berinisiatif membaca novel saja. Kebetulan, aku belum baca Ketika Cinta Bertasbih 2. Itupun, pinjam ke temen. Bergiliran memutar dari satu tangan ke tangan yang lain. Mulai dari Sukendar, aku kemudian Widoyo. Dan bisa Anda bayangin, berapa kata cinta kita temui di novel tersebut. Belum lagi, setelah membacanya, kami sering mendiskusikan masalah cinta. Berapa kata cinta kami sebut-sebut?
Sambil membaca, kadang-kadang kami sambil mendengarkan Radio Gen FM. Entah berapa kata cinta kudengar dalam lagu-lagu yang diputar. Kemudian, malam harinya, saya sering ke warnet. Entah berapa website, situs maupun blog yang membahas tentang cinta. Tak terhitung jumlahnya.
Berhenti di sini. Adakah Anda menjumpai kata cinta lagi? Bisa disebutkan berapa banyak?
Jadi, sepakatkah Anda dengan pernyataan saya bahwa ‘cinta’, adalah kata yang paling banyak ditemui dalam kehidupan manusia? Dan terakhir, bisakah Anda sebutkan berapa kata cinta dalam tulisan ini?
Mu51b4h B354r
H4ri 1n1 4ku d4p4t mus1b4h. Aku d4p4t C untuk 4kuntan51 b1aya. Aku 5ud4h t4u kesal4h4nku:
T1D4K MENG3RJ4K4N SO4L D3N64N B3N4R
T4p1 sant41 54j4, 1n1 mat4 kul14h y4n6 kur4n6 s16n1f1kan d4l4m 5tud1ku. M35k1 ny353l ju64 64 d4pat 4.
Ini hasil tulisan yang dikonvert menggunakan ABG Generator
Surat dari Murabbi
Assalamu’alaikum Wr Wb
Akhi Fillah, banyak mukmin yang ketika ditawari dengan
kematian langsung menyambut dengan gembira. Maksudnya
adalah kematian di jalan Allah. Kematian disini adalah
kematian ketika kita harus nahi mungkar menghancurkan
pusat kemaksiatan-miras contohnya. Kematian disini adalah
kematian ketika kita harus berjihad di Palestina misalnya.
Kematian ini adalah kematian ketika kita mengusir Kafirin
dari bumi islam misalnya.
Nah, setelah kemenangan itu datang. kemaksiatan atau
kekafiran berhasil kita kalahkan. Akan sangat sedikit
sekali mukmin yang siap untuk hidup mulia diatasnya. Hidup
mulia disini maksudnya adalah mengisi kemenangan ini
dengan pembangunan. Pembangunan yang berdimensi ruhiyah,
jasmaniyah, fikriyah dan alamiyah. Siapa yang siap menjadi
teknokrat yang membangun jembatan, bendungan dan
sebagainya untuk kesejahteraan ummat? Siapa yang siap
menjadi dokter -dengan segala bidangnya- untuk selalu
menjaga kesehatan ummat? Siapa yang siap menjadi
politisi-untuk menegakkan keadilan di hati ummat? Dan
siapa yang siap menjadi Da’i, Guru, Ilmuwan, dll?
Mengapa hal itu terjadi? Mengapa kita lebih memilih-dengan
mudahnya- syahid dari pada menempuh jalan kemuliaan
didunia dulu baru kita meninggal? Apakah Islam itu hadir
untuk ‘membunuh’ kita agar masuk syurga sebelum kita
tunaikan amanat sebagai khalifahnya?
Akhi fillah….
Jargon kita hidup mulia atau mati syahid sering kita
dengungkan. Artinya apa? Jika kesyahidan yang kita impikan
itu belum hadir untuk kita, maka ada hal lain yang wajib
kita lakukan untuk menjadi muslim yaitu menjadi mulia
dengan mengemban amanat-Nya.
Menjadi Teknokrat, Birokrat, Dokter, Politisi, Ilmuwan,
Da’i, Guru, Murobbi adalah semua posisi mulia – yang bukan
hanya dimata masyarakat, tapi di hadapan Allah – jika kita
niatkan sebagai ibadah.
Namun, antum ketahui bahwa posisi itu tidaklah seideal
seperti yang kita bayangkan. Akan banyak kendala yang
bahkan akan berhubungan dengan sendi syariat itu sendiri,
dari korupsi, pengingkaran janji, ikhtilat dengan yang
bukan muhrim dan lain sebagainya.
Adalah tugas kita untuk berbaur tapi tidak terwarnai
dengan hal – hal yang diluar Islam. Karena tugas khadimul
ummah adalah tugas amanah kita dari Allah yang ketika itu
tak satupun makhluk-Nya siap mengemban amanah tersebut.
Berkaitan dengan masalah ikhtilat yang antum hadapi, dan
virus cinta yang saat ini menari di angan dan hati antum.
Maka segala solusi ada dalam diri antum sendiri. Yang
paling dimungkinkan adalah tarbiyah dzatiyah antum kurang
sehingga panah iblis begitu mudah merasuk dalam dada.
Tolong evaluasi lagi tilawah antum, QL antum, puasa sunnah
antum, sedekah antum dsb. Ini adalah solusi internal . . .
dan harusnya memiliki prosentase pemecahan lebih banyak.
Kemudian, pahamkan kepada akhwat tersebut tentang hakikat
cinta, adab pergaulan lain jenis dan bagaimana kewajiban
ber-gadhul bashor diantara mereka dan kita.
Selanjutnya, sosok murobbi hanyalah rekan, guru, sahabat,
kakak, syaikh yang sejatinya hanya sebentar kita bergaul.
Semuanya akan kembali ke kita sebagai pribadi. Tidak akan
ada sosok ideal murobbi yang kita temui, pasti ada
kekurangan meski cuma satu.
Ana sendiri memiliki banyak kekurangan jika antum tahu.
Bukan menolak untuk jadi murobbi antum lagi, cuma antum
nggak ada temannya dan jaraknya jauh. Mungkin cukup
sebagai murobbi ke-dua di dunia maya (e-mail) atau
sesekali antum datang kerumah.
Berkaitan dengan cinta yang mulai merasuk dalam dada
antum. Bacalah kembali kisah Nabi Yusuf as. Renungkan
hikmah yang terkandung didalamnya. Kemudian laporkan
situasinya kepada Pemilik Cinta saat Sholat malammu dan
mohonlah Petunjuk-Nya. InsyaAllah engkau akan dapat
mengatasinya. Jika engkau ingin mendengar kisah dari ane
yang jg ‘digoda’ Akhwat sampai dia kirim surat cinta dan
ane pahamkan dia tanpa membuat dia keluar dari dakwah.
Atau Kisah kakak kelas yang mungkin pernah ane ceritakan
yang memutus pacarnya di Amerika yang secara lahiriah
cantik, pintar, kaya hanya karena ingin mendapat Cinta
Allah maka silahkan datang kerumah.
Mungkin sementara itu yang bisa ana sampaikan, semoga
Allah memberi jalan keluar atas masalah antum. Semoga kita
adalah orang ‘yang takut mencintai, takut dicintai dan
takut jatuh cinta’ manakala cinta itu tidak mendapat
ridlo-Nya. Amien.
Saudaramu,
