Santri Metropolis

Belajar Menjadi Bijak

Archive for the ‘Kisah’ Category

Etika Berbicara di depan Publik

with one comment

Kamis sore, saya mengikuti sebuah seminar di sebuah kampus negeri. Sebenarnya, waktu itu adalah waktu kuliah. Karen dosen mata kuliah yang bersangkutan kebetulan menjadi narasumber, jadilah kami (saya dan teman sekelas) peserta ’istimewa’ seminar tersebut. Ya, istimewa karena kami tidak perlu mendaftar, tapi sebagian dari kami bisa dapat tempat duduk paling depan. Istimewa juga karena tidak perlu membayar biaya pendaftaran, tetapi mendapat jatah konsumsi..:-). Namun sial bagi saya dan teman-teman yang datang terlambat. Kami tidak mendapat tempat duduk. It’s ok. Orang yang terlambat memang pantas untuk tidak mendapat tempat duduk.

Seminar itu membahas tentang tantangan ekonomi Islam menghadapi Krisis Ekonomi Global. Sebuah tema yang sangat menarik, berat, bahkan membuat sebagian orang yang mendengarnya mungkin akan mengerutkan kening. Apalagi bagi mereka yang awam dengan ekonomi Islam. Karena ternyata, di luar sana—maksudku di luar kampus ekonomi Islam ini, banyak sekali makhluk bernama manusia yang masih sangat awam dengan ekonomi Islam. Bagi saya, kondisi ini membuat saya beruntung (bukan karena nama saya Untung) hidup di kampus Ekonomi Islam tertua kedua di Indonesia (menurut teman saya: Haritsma). Posting ini sama sekali tidak bertujuan membahas isi seminar. Akan tetapi, menyoroti bagaimana prosesi seminar tersebut.

Bagi peserta yang sudah mengetahui bagian paling dasar (elementer) dari ekonomi Islam, apalagi bagi kami yang setiap hari memang mengkaji ekonomi Islam di dalam kelas (maaf, sama sekali tidak bermaksud sombong), materi yang disampaikan dalam seminar tersebut adalah materi yang sering kami bahas di kelas. Wal hasil, kami seperti merasa di rumah sendiri, hanya dalam sekup yang lebih besar, kurang lebih 200 orang. Bagi saya, pemateri makalah (dosen saya dan seorang lagi yang katanya mantan Presnas (Presidium Nasional) FoSSEI (Forums Silaturahim dan Studi Ekonomi Islam) sangat tepat dengan menjelaskan logika dasar dari ekonomi Islam, mengingat bahwa para peserta adalah awam.

Yang menarik perhatian saya adalah ketika salah seorang peserta, teman saya sendiri ’mengkritik’ (untuk tidak dikatakan sebagai ’menjatuhkan’). Beliau mengatakan kepada pemateri bahwa materi yang disampaikan kurang substansial dan tidak meninggung akar masalah sebenarnya, yang menurut saya justru sebaliknya. Pernyataan seperti ini menurut hemat saya, memiliki dampak yang kurang baik (untuk tidak dikatakan sebagai negatif). Ok. Bahwa menurut beliau materi yang disamapaikan tidak substansial adalah benar jika beliau berbicara dalam kapasitasnya sebagai pengkaji ekonomi Islam. Untuk beliau, jika membaca posting ini saya sarankan, ”kalau menginginkan pembahasan masalah yang lebih sering-seringlah antum ikut kajian”. Jadi tidak timpang dengan peserta lain. Pernyataan beliau bahwa pembicara kurang substansial, lagi-lagi menurut hemat saya bisa mengurangi kredibilitas dosen tersebut di mata publik, karena secara tidak langsung al akh mengatakan bahwa pembicara dibayar untuk mengatakan sesuatu yang mubazir. Padahal setelah saya cek, ternyata pembicara (sang dosen) sudah sangat tepat menyampaikan apa yang seharusnya beliau sampaikan. Karena, materi beliau akar krisis global tapi lebih ke arah ’bisnis (entrepreneur) sebagai alternatif dalam kondisi krisis’. Yang seharusnya menyampaikan akar krisis global memang menjadi tugas pembicara yang kedua.

Sebagai penutup, saya mengajak kepada seluruh pembaca, blogger, netter dan sejenisnya, agar lebih bijak ketika kita ingin berbicara atau berpendapat di depan publik. Setiap orang memang memiliki hak untuk berbicara, sepanjang tidak menyinggung orang lain, apalagi dalam kontek yang ’diserang’ adalah pembicara utama. Apalagi, kita berbicara dalam forum yang sangat-sangat Islami. Afwan (maaf) jika posting ini menyinggung pihak-pihak tertentu.

Written by ukasbaik

November 21, 2008 at 4:31 am

Posted in Kisah

Tagged with ,

Sebuah Catatan Kenangan: Menentang Kediktatoran Kampus

without comments

Kontributor: Saidurrahman (Ketua BEM Politeknik Gajah Tunggal 2006-2007)

“Innalillahi….,”

Kudengar desis tersebut keluar dari bibir Zeal. Termasuk aku, dalam hati kami semua tertanam rasa benci yang sangat dalam kepada pihak kampus atas adanya efek yang nggak kami semua harapkan.

“Kita harus gimana Zeal?” tanyaku kemudian.

“Akh, antum kan ketua DEMA. Malam ini kita harus koordinasi internal. kesewenangan yang makin menjadi ini tak bisa dimaafkan,” jawab Zeal berapi – api.

Rasa kesal yang membuncah akhirnya membuatku kabur dari materi olahraga sore ini di kampus. Betapa tidak seperti tadi yang kuungkapkan, kesewenangan pihak kampus terhadap kami , anak – anak desa yang “dijaring” lewat seleksi ketat untuk mengikuti pendidikan kedinasan, semakin menjadi – jadi.

Mungkin ini puncak dari semuanya. Dua teman kami, yang sama – sama kami berjuang untuk mengharumkan nama baik Politeknik Gajah Tunggal, kampus yang kami sayangi, serta nama baik Gajah Tunggal Grup sebagai institusi tempat kami bernaung dan menimba ilmu, harus di DO dengan tidak hormat.

Tentu dengan alasan, yang bagi kami merupakan alasan yang sangat di cari – cari dan dibuat – buat. Bisa dibilang FITNAH. Hingga wajar saat melihat wajah Wilders, pembuat film FITNA, kembali terbayang dibenakku wajah direktur dictator di kampus kami yang sekarang entah dibuang kemana. MIRIP.

Untung Kasirin dan Indar Dwi Basuki. Bendahara dan Ketua Tim KRI Politeknik Gajah Tunggal (selanjutnya disingkat Poltek GT) tersebut harus menelan pil pahit atas ketidak senangan Mr Big (sorry – disamarkan)  terhadap mereka.

12 Juni 2006 Surat Keputusan DO itu turun. Surat yang kami bilang aneh karena tak seperti SK DO sebelum – sebelumnya. Tak ada keputusan mengganti sejumlah uang atas ditempuhnya masa belajar di kampus, bahkan terdapat kata – kata yang mengizinkan revisi atas SK DO tersebut jika terjadi hal – hal yang tidak diinginkan yang berakibat SK DO tersebut kami rasa tidaklah kuat.

Perjuangan Tim KRI Poltek GT sudah dimulai dua tahun sebelumnya oleh dua angkatan kakak tingkat kami. Mungkin karena kehendak Allah SWT, baru di kali ketiga dan artinya di angkatan kami tim KRI Poltek GT bisa lolos berbagai verifikasi hingga akhirnya berhak maju ke pertandingan kualifikasi di Balairung UI bulan Mei 2006.

Sebuah perjuangan yang melelahkan tentunya saat teman – teman kami tersebut berjibaku dengan kabel, obeng, baut, perangkat PLC, dynamo, joystick, dan peralatan pendukung lainnya. Menggambar, menghitung, hingga membuat rancang bangun sebuah robot yang layak untuk lolos dalam verifikasi.

Allah, tanpa petunjuknya mungkin tak bisa prestasi yang besar buat kampus yang bahkan terdengar pun tidak di kalangan penjual es di Jatake Tangerang. Masa – masa sulit mencari sponsor dana hingga tim KRI harus berhutang jutaan rupiah adalah perjuangan besar untuk mewujudkan mimpi kami semua, menunjukkan pada dunia bahwa kami adalah anak – anak terpilih dan anak – anak terbaik yang harus DIHARGAI.

Tak ada tanda – tanda mendukung penuh perjuangan kami dari kampus sepertinya saat sebelum kami dinyatakan lolos verifikasi. Aku sebagai ketua Dewan Mahasiswa (DEMA) terpilih yang saat itu belum sempat dilantik hanya karena terbentur birokrasi akibat posisi ketua DEMA yang lama sedang menempuh Praktek Kerja Lapangan (PKL) tak bisa diganggu gugat. Padahal masih berada dalam satu kompleks yang tak butuh 10 menit untuk datang ke kampus. Aku mencoba menggalang dana lewat subsidi dari uang saku yang kami semua terima, yah walupun tak seberapa jumlahnya dan tentu tak sebanding dengan tumpukan hutang yang harus dilunasi kewajibannya segera.

Tak banyak yang kami harapkan dari pihak kampus. Hanya kelonggaran birokrasi dan dispensasi atas masa magang industry yang harus kami lewati saja. Berbelit memang, dan seperti itulah kondisi di kampus kedinasan. Tapi sekali lagi Allah maha Adil. Perjuangan, doa, dan tetes – tetes keringat sahabat – sahabatku baik di Teknik Elektro maupun Teknik Mesin dibalasNya dengan lolosnya verifikasi awal.

Alhamdulillah….

Namun, kami tak boleh larut dalam senyum kepuasan atas ujian ini. Masih banyak yang harus kami benahi atas revisi kondisi robot kami. Waw, dan tentunya makin banyak dana yang harus dikeluarkan. Untunglah, pihak panitia menyediakan sejumlah uang untuk setiap tim yang lolos verifikasi yang dibayarkan setelah KRI selesai dilaksanakan. Ini artinya, kendati kami harus berhutang setidaknya ada ketenangan bahwa hutang tersebut bisa dibayar dari uang yang diberikan panitia tersebut.

Lolosnya babak verifikasi ini ternyata sedikit mebukakan mata pihak kampus terutama Mr Big. Entah ada apa dibalik semuanya, Mr Big berubah drastic menjadi perhatian pada aktivitas dan perjuangan kami menuju KRI Tingkat Nasional tersebut. Sebelumnya tak usah pembimbing, pendamping pun kami nggak punya. Selain karena tak mampu membayar, tentunya lebih ahsan bagi kami berkonsultasi dengan dosen – dosen kami.

Dimasa tersebut Mr Big segera membentuk tim khusus di kalangan dosen untuk mendampingi dan membimbing kami. Yah, akhirnya kami melihat sinar keseriusan dan dukungan penuh dari seluruh dosen – dosen kami. Dan Mr Big menggelontorkan sejumlah uang yang katanya tak perlu diganti nantinya untuk mendukung usaha kami.

Mengenai kesewenangan dan ketidak adilan Mr Big sepertinya tak perlu banyak diungkapkan. Yang hanya perlu diketahui bahwa sejak Mr Big menjabat sebagai direktur Poltek GT kegiatan yang berhubungan dengan kemahasiswaan menjadi SERET. Bahkan tak ada dana sedikitpun untuk pengembangan keorganisasian, UKM, dan Olah Raga. Sekedar contoh, untuk membeli bola basket dan bola voli, kami hanya mengandalkan sisihan dari uang saku yang tentunya tak seberapa. Termasuk untuk kegiatan lain seperti Dewan Mahasiswa, ROHIS, Koran Dinding.

Tak layak sepertinya disebut kampus karena seperti di tempat lainnya selalu ada alokasi dana kegiatan kemahasiswaan, di Poltek GT semasa kepemimpinan Mr Big begitu miskin aktivitas. Tapi sobat, tak seperti itu yang ada pada jiwa kami semua. Karena kuyakin bahwa teman – temanku di kampus tersebut adalah anak – anak berprestasi, kami masih bisa mengadakan acara – acara sejenis dauroh, mengikuti berbagai organisasi di luar kampus, dan sebagainya.

Ini tak lain karena kasih sayang dan support dari kakak tingkat kami yang sudah menjadi alumni dan sudah bekerja di lingkungan Gajah Tunggal Grup. Sebuah ikatan persaudaraan yang tak bisa diungkapkan dengan kata – kata. Walaupun demikian, harus kuakui dimasa Mr Big menjabat prestasi di berbagai bidang lewat beberapa kontes serta kompetisi nasional prestasi kami tak sebaik kakak – kakak tingkat kami dahulu.

Oleh karenanya, layak kami berbangga atas masuknya tim kami ke Babak Kualifikasi Kontes Robot Indonesi 2006 di Balairung Universitas Indonesia. Berjuang – bertarung dengan sahabat – sahabat kami di berbagai belahan Indonesia untuk mendapatkan tiket menuju ABU ROBOCON 2006 di Kuala Lumpur.

*           *            *

Malam belum tampak larut. Sehabis silaturrahim dengan alumni, aku, Zeal ketua ROHIS, serta fungsionaris DEMA dan Rohis angkatan sebelumnya berkumpul di musholla Lt.3 Gedung B Asrama kami untuk membicarakan reaksi yang akan kami berikan terhadap keputusan dan kesewenangan Mr Big.

Rapat yang juga terbuka untuk seluruh penguhuni Asrama tersebut ternyata berjalan alot. Aku tak menyangka sahabat – sahabatku yang lainnya begitu antusias. Aku rasa tak lain ini dilatar belakangi oleh rasa senasib dari kami semua sebagai anak – anak miskin di tanah perantauan.

Sobat tentu bisa membayangkan bagaimana nasib kedua teman kami yang dikeluarkan terlebih dengan alasan tak hormat yang tentunya akan menimbulkan fitnah di mana – mana. Akhirnya disepakati bersama bahwa esok kami akan mengadakan aksi menuntuk keadilan di lapangan basket kampus.

Pagi menyapa dengan cerah dibarengi dengan semangat  pemuda – pemuda tangguh yang telah berbaris rapi di halaman asrama. Subhanallah… aku tak menyangka sms jarkom yang dikirim ke seluruh mahasiswa 2 angkatan ternyata direspon sangat baik. Buktinya, 100 % mahasiswa angkatan 23 dan 24 dapat disatukan padahal tak semuanya tinggal di asrama.

“Assalamu’alaikum dan Semangat Pagi!!!” Gito, Koordinator Lapangan yang kutunjuk, memimpin barisan dan membuka apel pagi yang tak biasa ini dengan penuh semangat.

“Teman – teman, seperti yang kalian ketahui bahwa telah terjadi tragedy yang tidak kita semua inginkan yang diakibatkan kesewenangan Mr Big,” Gito mulai berorasi. “Karenanya hari yang indah ini, saya mengajak teman – teman semua untuk menorehkan sejarah memberantas segala tindak kelaliman yang terjadi di kampus kita. Hidup Mahasiswa!!!”

“Hidup Mahasiswa!!!”

Seketika halaman asrama menjadi bergemuruh oleh teriakan – teriakan penyemangat bahwa kami siap berperang

Written by ukasbaik

November 9, 2008 at 3:19 pm

Posted in Kisah

Tagged with , ,

(*)

without comments

Siang itu cerah. Sebuah panggung besar berdiri menjulang di sisi utara lapangan sekolah. Tamu undangan yang berasal dari perwakilan yang beragam telah menempati tempat duduk mereka di deretan terdepan, duduk di bawah tenda yang menghalangi terik matahari siang lengkap dengan kotak makanan ringan.

Sebagian dari mereka berasal dari utusan sekolah tetangga seperti SMP N 1 dan SMP N 2 Ketanggungan. Sebagiannya lagi, para orang tua, adalah wakil wali murid siswa kelas 3 yang telah menempuh ujian. Hari itu, siswa kelas 3 harus mengucapkan salam perpisahan pada almamater. Tiba waktunya bagi mereka untuk melanjutkan kehidupan.

Berbeda dengan para tamu undangan, kami para siswa terutama kelas 1 dan 2, duduk di bagian belakang. Sebagian besar kursi tempat duduk kami berada di luar tenda. Siswa laki-laki bergeliat seperti cacing kepanasan, sementara yang perempuan berusaha melawan terik dengan kipas plastik berwarna-warni. “Dasar perempuan!,” gumam suara dari dalam diriku. “Sabar benar kalian menghadapi panas.”

Begitu sebagian kursi terisi, MC segera membuka acara. Kepala sekolah membawakan pidato sambutan yang mengharu biru melepas kakak kelas. Selanjutnya, ketua panitia melanjutkannya dengan meminta maaf kepada hadirin jika pada penyelenggaraan acara banyak kekurangan. Menurutku, permintaan maaf itu seharusnya ditujukan khusus pada teman-teman kelas 1 yang tidak kebagian kursi dan kepanasan.

Sejurus kemudian, acara pelepasan dilakukan secara simbolik antara perwakilan siswa dengan kepala sekolah. Selanjutnya, acara ditutup dengan serangkaian hiburan dari paduan suara, puisi dan pembagian hadiah kepada siswa berprestasi.

Namun ada yang lain yang tak kalah spesial dari acara pelepasan kali ini, yaitu pemberian hadiah kepada siswa teladan perpustakaan. Penghargaan ini diberikan kepada 3 siswa masing-masing dari perwakilan kelas 1, 2 dan 3. Siswa kelas 2 yang terpilih waktu itu adalah Muhammad Fatihin dari kelas 2A. Penghargaan ini diberikan kepada mereka yang rajin mengunjungi perpustakaan dan mengisi daftar hadir.

***

Tahun ajaran baru pun tiba. Senang sekali, akhirnya aku duduk di bangku kelas 3, tingkatan tertinggi dalam hierarki premanisme sekolah. Pada posisi kelas ini, siswa kelas 3 merasa ‘berkuasa’, senior dan percaya dirinya mendadak naik beberapa digit.

Dari serangkaian acara pelepasan, pemberian hadiah siswa teladan nampaknya paling berkesan. Para siswa jadi rajin berkunjung ke perpus. Namun bagiku itu sungguh menggelikan. Para siswa rajin ke perpustakaan bukannya untuk membaca buku, tetapi hanya mengisi daftar hadir. Suzito, teman sekelasku, minimal dua kali dalam sehari mengunjungi perpustakaan hanya untuk mengisi daftar hadir. Setiap jam istirahat, perpustakaan penuh dengan siswa, yang mungkin berambisi untuk mendapatkan pengharagaan Siswa Teladan Perpustakaan.

Roda waktu terus berputar dan mengantarkannya ke penghujung tahun ajaran. Sesuai tradisi, sekolah pun menyelenggarakan acara pelepasan siswa. Kali ini, kamilah yang dilepas. Acara pelepasan biasanya diadakan sebelum pengumuman hasil ujian ketika siswa menghadapi saat paling menegangkan. Namun yang juga tak kalah menegangkan adalah pengumuman Siswa Teladan Perpustakaan. Suzito, Fatihin dan sederet nama lain pasti sedang H2C menunggu kemungkinan namanya disebutkan.

Begitu pengumuman dibacakan, aku kaget bukan kepalang. Namaku disebutkan sebagai Siswa Teladan Perpustakaan dari kelas 3. Wow! Aku sama sekali tidak membayangkan akan terpilih. Prasangka tersebut berdasarkan fakta bahwa aku jarang sekali membubuhkan nama di atas buku daftar pengunjung. Sambil berjalan ke atas panggung, aku menundukkan pandanganku. Aku malu menatap mata teman-teman. Pastilah mereka berpikir, berapa kali sehari aku membubuhkan nama dan tanda tangan.

Setelah acara penyerahan hadiah, aku segera menemui Pak Banani dan Ibu Hera. Kepada mereka berdua, aku bertanya heran kenapa aku yang menerima penghargaan tersebut. Sambil tersenyum, Pak Banani berujar, “Saya tidak menilai berapa banyak kunjungan ke perpustakaan dalam setahun. Bagi kami, siswa yang bersedia menaruh buku yang telah dipakai siswa lain yang berantakan di rak yang benar, dan berprestasi di kelas karena membaca buku kami, adalah siswa yang pantas menerima penghargaan tersebut.”

Written by ukasbaik

August 23, 2008 at 7:00 am

Posted in Kisah

Tagged with ,

Seputar Indonesia

with 3 comments

NASIB MAHASISWA POLITEKNIK GAJAH TUNGGAL YANG DI-DROP OUT
Minta Bantuan Dana Wali Kota dan Gubernur

SETELAH diberhentikan dari Kampus Politeknik Gajah Tunggal, sebanyak 130 mahasiswa tingkat I dan II kini menganggur. Apalagi, mahasiswa yang kuliah di kampus ikatan dinas ini, rata-rata berasal dari keluarga prasejahtera. “Ada sih rasa malu sama orang tua di kampung, tapi kami juga harus memperjuangkan status sebelum ada surat pemberhentian tertulis dari pihak kampus,” tutur Adi Permana, mahasiswa semester II, Jurusan Teknik Elektro ketika ditemui di Asrama Patigat, Jalan Khoirun Akhmad No.17 RT 01/03, Kampung Ledug, Kel. Alam Jaya, Jatiuwung, Tangerang.

Untuk mengisi waktu luang, mahasiswa asal Kuningan, Jawa Barat ini mengaku lebih memilih berdiam diri di kamarnya seluas 4×2,5 m2. Bukan untuk meratapi nasibnya yang terkatung-katung, Adi bersama rekan-rekan lainnya belajar mendalami sistem komputerisasi. “Siapa tahu, saya bisa bekerja sebagai teknisi komputer, tidak ada salahnya kan, “ujarnya meyakinkan. Begitu juga yang dialami Aud Shalahudin, mahasiswa semester II Jurusan Teknik Elektro asal Cirebon, Jawa Barat. Dia enggan pulang kampung halamannya karena khawatir menambah beban orangtuanya yang kesehariannya bekerja sebagai buruh tani. “Orang tua sudah tahu nasib saya di sini. Untungnya, mendukung perjuangan saya, ” ucapnya.

Bahkan, dia pun enggan “banting stir” mengikuti kuliah di perguruan tinggi lain. Pasalnya, kuliah selama 3-4 tahun di tempat lain memerlukan biaya yang tidak sedikit. Berbeda dengan kuliah di kampus ikatan dinas milik PT. Gajah Tunggal, perusahaan produksi ban ini.

Lalu bagaimana kalian memenuhi kebutuhan sehari-hari? Zainal Abidin, mahasiswa asal Tulungagung, Jawa Timur ini mengaku, hanya mengandalkan bantuan dari saudaranya yang tinggal di Tangerang. Tentu, bantuan ini tidak cukup dalam jangka waktu sebulan. Untuk itu, Zainal dan rekan-rekannya pun memberanikan diri mengirim proposal bantuan dana ke Plt Gubernur Banten Ratu Atut Chosiyah dan Walikota Tangerang Wahidin Halim.
“Terserah, mau uang atau sembako. Yang pasti, kami sangat berterima kasih,” katanya dan diiyakan rekan-rekan yang ada di dekatnya.

Mereka terpaksa meminta-minta karena uang saku yang selama ini ditanggung kampus sebesar Rp. 150.000 – 300.000 per bulan per mahasiswa, secara otomatis terhenti. Padahal, uang ini amat berharga bagi mereka untuk membayar uang sewa kamar dan membeli makanan serta minuman. Namun, ditengah kembang kempisnya kucuran dana, ratusan mahasiswa tetap bertahan untuk meneruskan perjuangan dan demi kebersamaan serta kekompakan. Ini patut diacungi jempol.

Ditempat terpisah, Direktur Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Bela Bangsa sekaligus kuasa hukum mahasiswa, Muhammad Luthfi, mengaku prihatin atas arogansi pihak kampus. Padahal mahasiswa ini sedang semangat-semangatnya mengenyam dunia pendidikan sebagai bekal kerja di perusahaan tersebut.

Luthfi berjanji akan terus memperjuangkan nasib kliennya melalui jalur hukum. Mulai pengiriman surat kepada Walikota Tangerang, Plt. Gubernur Banten. Departemen Pendidikan Nasional, hingga melakukan hearing dengan Komisi X DPR RI. “Saya melihat celah kasus ini bakal berujung ke pengadilan negeri, ucapnya.
(sujoni)

Written by ukasbaik

September 5, 2007 at 3:55 pm

Posted in Kisah

From Rhisy’s Blog

with one comment

Perjalanan Aksi Mahasiswa Poltek

PERCEPAT PROSES ADVOKASI MAHASISWA POLTEK GT


KOTA TANGERANG – Masa perjuangan menuntut kebenaran dan keadilan para mahasiswa Politeknik Gajah Tunggal sudah memasuki hari ke-42. Upaya-upaya yang telah diupayakan belum juga membuahkan hasil yang berpihak kepada mahasiswa.

Mulai dari upaya negosiasi penyelesaian internal yang dilakukan oleh tim mahasiswa yang didampingi DEMA (Dewan Mahasiswa) tanggal 15 Juni lalu, sampai dengan pengaduannya ke fraksi PKS DPR RI tanggal 18 Juli kemarin, belum ada titik terang, kapan proses perjuangan menuntut keadilan ini akan segera tuntas.
Runutan langkah yang terekam dalam perjalanan aksi mahasiswa bisa dilihat sebagai berikut:

13 Juni 2006 : Keluar SK Pemecatan (DO) 2 mahasiswa berprestasi, Indar Dwi Basuki dan Untung kasirin. Keputusan arogan ini mengusik hati nurani mahasiswa Politeknik Gajah Tunggal. Gaya kepemimpinan direktur Politeknik Gajah Tunggal, Budiman Ivino, yang selama ini sangat diktator dan otoriter menyulut mahasiswa untuk sampai kepada kesatuan kata dan tekad: aksi menentang arogansi, ke-diktator-an, dan ke-otoriter-an.

14 Juni 2006 : Mahasiswa Tk. II (semester 4) dan mahasiswa Tk. I (semester 2), berjumlah 137 mahasiswa, melakukan aksi solidaritas mogok belajar. Pada hari ini dilakukan negosiasi untuk menuntut pencabutan SK Pemecatan diatas. Karena sikap pengecut direktur Politeknik Gajah Tunggal, yang tidak berani mempertanggungjawabkan tindakannya berhadapan dengan mahasiswa, negosiasi dilakukan di Gajah Tunggal Grup Tangerang.

Budiman Ivino bersembunyi dibelakang management Gajah Tunggal dengan menebar opini dan isu yang menyesatkan, bahwa 2 mahasiswa (Indar & Untung) telah melakukan korupsi dan merugikan secara material Politeknik Gajah Tunggal. Benny Gozali, pimpinan Perusahaan Gajah Tunggal Tangerang, bukan menjadi penengah atau peredam masalah, secara membabi buta menyalahkan mahasiswa dan mendukung penuh keputusan direktur Politeknik Gajah Tunggal.

Karena negosiasi tak seimbang itu menemui jalan buntu, sore harinya seorang perwakilan mahasiswa dan 2 mahasiswa yang di DO mengadukan kasusnya ke fraksi PKS DPRD Kota Tangerang. Sementara aksi mogok belajar masih berlangsung dihalaman kampus Politeknik Gajah Tunggal hingga jam 18.00 WIB.

15 Juni 2006 : Mahasiswa kembali melakukan aksi solidaritas dengan mogok kuliah di halaman kampus. Koran Satelit News memuat berita ‘aksi solidaritas’ mahasiswa Politeknik Gajah Tunggal, tetapi kontennya justru menyudutkan mahasiswa. Mengambil informasi dari Ismail, Public Relations PT. Gajah Tunggal, dikatakan pada koran itu bahwa 2 mahasiswa Politeknik Gajah Tunggal di DO karena nilainya kurang (padahal proses DO berdasarkan nilai hanya bisa dilakukan setelah hasil UAS keluar, sementara sesuai jadwal akademik Politeknik Gajah Tunggal baru akan melaksakan UAS tanggal 10 Juli 2006). Jadi, Ismail, PR PT. Gajah Tunggal telah memberikan keterangan palsu, berbohong kepada publik Kota Tangerang dan warga Banten pada umumnya.

16 Juni 2006 : Harian Seputar Indonesia (Sindo), Koran Tempo, dan Tribun Banten, memuat aksi solidaritas mahasiswa Politeknik Gajah Tunggal. Diharian Tribun Banten memuat berita foto dengan isi teks yang kurang lebih muatannya sama dengan pemberitaan Satelit News sehari sebelumnya, bahwa mahasiswa melakukan aksi solidaritas untuk rekannya yang di DO karena nilainya rendah. Lagi-lagi narasumbernya adalah Ismail, PR PT. Gajah Tunggal.

Harian Sindo lebih objektif, diberitakan didalamnya bahwa aksi mahasiswa politeknik gajah tunggal adalah dalam rangka solidaritas 2 rekannya yang di DO secara sepihak oleh Budiman Ivino per 12 Juni 2006. Dalam keterangannya Ismail tidak bisa berdusta lagi, karena pihak redaksi SINDO sudah menerima dokumen dan kronologis dari mahasiswa yang dibagikan untuk kalangan pers dan umum sehari sebelumnya. Ismail mengatakan bahwa 2 mahasiswa tersebut (Indar & Untung) di DO karena point-point tuduhan yang tercantum dalam SK DO direktur Politeknik Gajah Tunggal. Hanya saja SINDO tidak mengkritisi kebijakan Budiman Ivino yang otoriter.

Koran Tempo, memuat berita yang cukup baik. Disamping bersifat objektif, pesan yang terkandung didalamnya adalah menyayangkan sikap Direktur Politeknik Gajah Tunggal yang sewenang-wenang.

Fraksi PKS mem-follow-up pengaduan mahasiswa Politeknik Gajah Tunggal, dan membawanya ke Komisi B DPRD Kota Tangerang, yang membidangi masalah pendidikan. Hari itu perwakilan mahasiswa melakukan hearing dengan komisi B. Hasilnya, komisi B berjanji akan memanggil Direktur Politeknik Gajah Tunggal, Budiman Ivino, pada hari Senin 17 Juli 2006, untuk melakukan klarifikasi dan langkah penyelesaian masalah.

Mahasiswa juga mengirim perwakilannya untuk menemui HRD Gajah Tunggal Grup Pusat, di Wisma Hayam Wuruk Jakarta. Dari perbincangan dengan Pimpinan HRD Pusat, Ope Mustofa, ditarik kesimpulan bahwa SK bermasalah yang dikeluarkan oleh Budiman Ivino sangatlah sulit dianulir, akar masalahnya adalah terbentur soal prestise corporasi Gajah Tunggal Group yang tidak mau gentle mengakui kesalahannya kepada mahasiswa dan publik. Sehingga bukan lagi masalah siapa yang benar akan dibela, atau yang salah akan dihukum, tetapi lebih kepada ketidakamuan menelan resiko rasa malu yang harus ditanggung Gajah Tunggal Grup jika ‘ditaklukkan’ oleh mahasiswa yang dibiayainya.

17 Juni 2006 : Pihak PT. Gajah Tunggal melakukan upaya intimidasi kepada para mahasiswa untuk menghentikan aksi dengan cara memberikan ancaman-ancaman tertentu kepada beberapa karyawannya yang memiliki hubungan kekerabatan dengan mahasiswa di Politeknik Gajah Tunggal.

19 Juni 2006 : Budiman Ivino datang menghadiri panggilan Komisi B DPRD Kota Tangerang, sementara mahasiswa sudah dicekal pihak Gajah Tunggal melalui security. Mereka tidak boleh memasuki wilayah kampus, kecuali menandatangani formulir pernyataan penghentian aksi. Akhirnya mahasiswa terkonsentrasi di asrama, yang berlokasi sekitar 2 km dari kampus. Siang harinya mereka mendatangi gedung DPRD Kota Tangerang bersamaan dengan waktu pemanggilan Budiman Ivino oleh Komisi B.

Puluhan mahasiswa yang mewakili Komunitas BEM Tangerang (KOMBET), sudah lebih awal melakukan aksi diteras gedung DPRD untuk memberikan dukungan moral kepada para mahasiswa Poltek Gajah Tunggal, sekaligus pressure kepada Komisi B agar tidak segan2 melakukan tindakan tegas kepada Direktur Politeknik Gajah Tunggal yang telah bertindak sewenang-wenang.

Kedatangan Budiman Ivino ke gedung DPRD Kota Tangerang dikawal puluhan ‘alumni sukses’ yang memang sudah cukup akrab dengan Budiman lewat rutinitas acara kebhaktian di perusahaan. Sekali lagi, membuktikan bahwa dirinya sangat pengecut: dia yang membakar lumbung, orang lain yang ngga tahu-menahu diajak memadamkannya.

Budiman dipanggil secara tertutup untuk melakukan klarifikasi berkenaan dengan pengaduan mahasiswa Politeknik Gajah Tunggal, sementara diluar gedung aksi mahasiswa berlangsung dari jam 12.30 dsampai dengan jam 15.00 WIB. Setelah sekitar 1,5 jam pertemuan tertutup, PO Abas Sunarya selaku ketua Komisi DPRD Kota Tangerang bersama anggota legislatif lainnya, dan pihak rombongan Budiman Ivino keluar menemui mahasiswa untuk menyampaikan hasil pertemuan.

Hasil pemanggilan Komisi B terhadap Direktur Politeknik Gajah Tunggal memang jauh dari harapan mahasiswa. Abas hanya mengungkapkan bahwa dewan hanya berfungsi sebagai mediator, dan kedua belah pihak mesti bersikap mencari solusi. Disampaikannya bahwa Budiman Ivino meminta waktu tangguh selama 1 pekan untuk mengeluarkan putusan lebih lanjut. Sedangkan mahasiswa dinyatakan diliburkan untuk sementara waktu selama satu pekan.

26 Juni 2006 : Jeda waktu satu pekan yang dijanjikan Budiman Ivino tiba. Tetapi niat baik dari pihak Direktur Politeknik Gajah Tunggal itu tidak tampak terlihat. Hal ini ditunjukkan dengan sikapnya yang menutup komunikasi dengan pihak DPRD dan mahasiswa. Bahkan dirinya menebar opini dikalangan management PT. Gajah Tunggal tbk. bahwa kasus DO 2 mahasiswa sudah ditunggangi kepentingan politik, sehingga dirinya berlepas tangan dan menyerahkan kasus ini kepada pemilik pusat Politeknik Gajah Tunggal, Icih Nursalim (adalah istri Syamsul Nursalim, terdakwa kasus BLBI yang lari ke Singapura).

Masalah menjadi berkembang, karena pusat memutuskan pembekuan aktivitas perkuliahan secara total. Mahasiswa statusnya dibuat mengambang, diliburkan sampai batas waktu yang ditentukan kemudian. Sementara dosen tetap dan para staff kampus dipaksa mengajukan surat pengunduran diri. Kontan, kampus Politeknik tidak mungkin lagi mengadakan aktivitas perkuliahan lagi, minimal dalam waktu dekat. Bahkan kabar yang berkembang, Politeknik akan di tutup minimal untuk jangka waktu 3 tahun.

Gelap matanya pimpinan pusat gajah tunggal, yang diawali kecerobohan dan arogansi direktur politeknik gajah tunggal mengancam dan sangat merugikan masa depan para mahasiswa. Untuk itu, mulai 2 Juli 2006 perjuangan mahasiswa didampingi kuasa hukum Muhammad Luthfi, SH. dari LBH Bela Bangsa. Langkah2 perlawanan terlihat semakin membaik dengan penyebaran opini yang cukup intensif dimedia massa baik lokal maupun nasional. Termasuk langkah pengaduan ke DPR RI komisi X yang menangani masalah pendidikan.

Semoga langkah perjuangan dari rekan2 mahasiswa Politeknik Gajah Tunggal menemukan titik terang. Kemudian Allah SWT. memenangkan kebenaran, dan menghinakan kedzoliman. Amiin.

Setiap perjuangan butuh pengorbanan, dan setiap orang-orang mukmin bersaudara, saling membantu satu sama lain. Bagi siapa saja yang ingin membantu, baik melalui skillnya, wewenangnya, ataupun dananya bisa berkoordinasi dengan nomor kontak berikut ini. Rona : 0813 8360 1485 (Ketua DEMA Politeknik Gajah Tunggal).

Nafas saudara2 kita mahasiswa Politeknik Gajah Tunggal sangat terbatas, maka kesigapan dan kecepatan kita membantunya adalah cara terbaik untuk mengadvokasi mereka. Semoga Allah memuliakan antum yang meringankan beban saudaranya. Amiin.

Written by ukasbaik

September 5, 2007 at 3:52 pm

Posted in Kisah