Santri Metropolis

Belajar Menjadi Bijak

Surat dari Murabbi

leave a comment »

Musafir Kehidupan

Assalamu’alaikum Wr Wb

Akhi Fillah, banyak mukmin yang ketika ditawari dengan
kematian langsung menyambut dengan gembira. Maksudnya
adalah kematian di jalan Allah. Kematian disini adalah
kematian ketika kita harus nahi mungkar menghancurkan
pusat kemaksiatan-miras contohnya. Kematian disini adalah
kematian ketika kita harus berjihad di Palestina misalnya.
Kematian ini adalah kematian ketika kita mengusir Kafirin
dari bumi islam misalnya.

Nah, setelah kemenangan itu datang. kemaksiatan atau
kekafiran berhasil kita kalahkan. Akan sangat sedikit
sekali mukmin yang siap untuk hidup mulia diatasnya. Hidup
mulia disini maksudnya adalah mengisi kemenangan ini
dengan pembangunan. Pembangunan yang berdimensi ruhiyah,
jasmaniyah, fikriyah dan alamiyah. Siapa yang siap menjadi
teknokrat yang membangun jembatan, bendungan dan
sebagainya untuk kesejahteraan ummat? Siapa yang siap
menjadi dokter -dengan segala bidangnya- untuk selalu
menjaga kesehatan ummat? Siapa yang siap menjadi
politisi-untuk menegakkan keadilan di hati ummat? Dan
siapa yang siap menjadi Da’i, Guru, Ilmuwan, dll?

Mengapa hal itu terjadi? Mengapa kita lebih memilih-dengan
mudahnya- syahid dari pada menempuh jalan kemuliaan
didunia dulu baru kita meninggal? Apakah Islam itu hadir
untuk ‘membunuh’ kita agar masuk syurga sebelum kita
tunaikan amanat sebagai khalifahnya?

Akhi fillah….
Jargon kita hidup mulia atau mati syahid sering kita
dengungkan. Artinya apa? Jika kesyahidan yang kita impikan
itu belum hadir untuk kita, maka ada hal lain yang wajib
kita lakukan untuk menjadi muslim yaitu menjadi mulia
dengan mengemban amanat-Nya.

Menjadi Teknokrat, Birokrat, Dokter, Politisi, Ilmuwan,
Da’i, Guru, Murobbi adalah semua posisi mulia – yang bukan
hanya dimata masyarakat, tapi di hadapan Allah – jika kita
niatkan sebagai ibadah.

Namun, antum ketahui bahwa posisi itu tidaklah seideal
seperti yang kita bayangkan. Akan banyak kendala yang
bahkan akan berhubungan dengan sendi syariat itu sendiri,
dari korupsi, pengingkaran janji, ikhtilat dengan yang
bukan muhrim dan lain sebagainya.

Adalah tugas kita untuk berbaur tapi tidak terwarnai
dengan hal – hal yang diluar Islam. Karena tugas khadimul
ummah adalah tugas amanah kita dari Allah yang ketika itu
tak satupun makhluk-Nya siap mengemban amanah tersebut.

Berkaitan dengan masalah ikhtilat yang antum hadapi, dan
virus cinta yang saat ini menari di angan dan hati antum.
Maka segala solusi ada dalam diri antum sendiri. Yang
paling dimungkinkan adalah tarbiyah dzatiyah antum kurang
sehingga panah iblis begitu mudah merasuk dalam dada.
Tolong evaluasi lagi tilawah antum, QL antum, puasa sunnah
antum, sedekah antum dsb. Ini adalah solusi internal . . .
dan harusnya memiliki prosentase pemecahan lebih banyak.

Kemudian, pahamkan kepada akhwat tersebut tentang hakikat
cinta, adab pergaulan lain jenis dan bagaimana kewajiban
ber-gadhul bashor diantara mereka dan kita.

Selanjutnya, sosok murobbi hanyalah rekan, guru, sahabat,
kakak, syaikh yang sejatinya hanya sebentar kita bergaul.
Semuanya akan kembali ke kita sebagai pribadi. Tidak akan
ada sosok ideal murobbi yang kita temui, pasti ada
kekurangan meski cuma satu.

Ana sendiri memiliki banyak kekurangan jika antum tahu.
Bukan menolak untuk jadi murobbi antum lagi, cuma antum
nggak ada temannya dan jaraknya jauh. Mungkin cukup
sebagai murobbi ke-dua di dunia maya (e-mail) atau
sesekali antum datang kerumah.

Berkaitan dengan cinta yang mulai merasuk dalam dada
antum. Bacalah kembali kisah Nabi Yusuf as. Renungkan
hikmah yang terkandung didalamnya. Kemudian laporkan
situasinya kepada Pemilik Cinta saat Sholat malammu dan
mohonlah Petunjuk-Nya. InsyaAllah engkau akan dapat
mengatasinya. Jika engkau ingin mendengar kisah dari ane
yang jg ‘digoda’ Akhwat sampai dia kirim surat cinta dan
ane pahamkan dia tanpa membuat dia keluar dari dakwah.
Atau Kisah kakak kelas yang mungkin pernah ane ceritakan
yang memutus pacarnya di Amerika yang secara lahiriah
cantik, pintar, kaya hanya karena ingin mendapat Cinta
Allah maka silahkan datang kerumah.

Mungkin sementara itu yang bisa ana sampaikan, semoga
Allah memberi jalan keluar atas masalah antum. Semoga kita
adalah orang ‘yang takut mencintai, takut dicintai dan
takut jatuh cinta’ manakala cinta itu tidak mendapat
ridlo-Nya. Amien.

Saudaramu,

Written by ukasbaik

June 12, 2007 at 2:52 pm

Posted in Diariku

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: