Santri Metropolis

Belajar Menjadi Bijak

Menjadi Amil yang Beretika

with one comment

Amil zakat tidak hanya didefinisikan sebagai individu-individu yang konsen dalam usaha pengelolaan zakat. Amil zakat juga bisa berarti sebuah bangunan institusi yang tercermin dalam bentuk sebuah lembaga pengelola zakat, baik Badan Amil Zakat (BAZ) sebagai badan bentukan pemerintah, maupun Lembaga Amil Zakat (LAZ) atas prakarsa masyarakat, tentu dengan adanya pengukuhan dari pemerintah sebagaimana tertuang dalam Undang-Undang Nomor 38 Tahun 1999 tentang Pengelolaan Zakat.

Seiring dengan semakin meningkatnya kesadaran di kalangan umat Islam untuk menunaikan zakat, yang dibarengi dengan munculnya lembaga-lembaga pengelola zakat yang membuktikan diri sebagai sebagai institusi public yang amanah dan professional, dana zakat yang berhasil dihimpun dari tahun ke tahun semakin menunjukkan peningkatkan yang signifikan. Hal ini tidak hanya baik bagi upaya peningkatkan kesejahteraan umat, tetapi juga alamat baik bagi amil yang bekerja di lembaga tersebut. Karena secara teoritis, semakin tinggi pendapatan sebuah lembaga semakin tinggi pula tingkat kesejahteraan para pekerjanya.

Kita patut bersyukur atas upaya-upaya yang ditempuh beberapa lembaga seperti BAZNAS-Dompet Dhuafa Republika, Pos Keadilan Peduli Umat (PKPU), Rumah Zakat Indonesia serta beberapa lembaga pengelola zakat yang lain yang makin hari semakin banyak. Dalam upaya meningkatkan kesejahteraan umat melalui penggalakkan serta penggalangan zakat, lembaga ini juga telah membuktikan bahwa bekerja untuk kaum dhuafa sebagai amil zakat tidak lagi menjadi pekerjaan kelas dua atau entah kelas berapa di mata public. Bekerja sebagai amil pada saat sekarang telah menjadi sesuatu yang menyenangkan sekaligus menjanjikan sebagaimana menurut Bapak Ahmad Juwaini, Direktur Sumber Daya BAZNAS-Dompet Dhuafa Republika di Republika pada Jumat, 13 Juli 2007. Hal tersebut dikarenakan selain pekerja social, Al-Quran secara tegas menyebutkan bahwa amil berhak atas sebagian dana zakat karena amil termasuk salah satu dari delapan golongan yang berhak menerima dana zakat (QS. 9:60). Karena besarannya tidak disebutkan secara eksplisit, muncul kemudian beragam pendapat mengenai bagian amil. Salah satu mazhab–dan ini yang banyak dipakai serta telah ditarjih (dinyatakan sebagai pendapat paling kuat)–yakni Imam Syafi’i menyebutkan bahwa bagian amil atas dana zakat adalah 1/8 atau 12.5 persen dari dana zakat yang berhasil dihimpun. Terlepas dari dukung mendukung pendapat salah satu mazhab, kita harus bisa menyikapinya secara cerdas dan bijak.

Etika Amil

Kedudukan amil ibarat jembatan penghubung antara muzaki (orang yang wajib mengeluarkan zakat karena telah melampui syarat tertentu) dengan mustahik (orang yang berhak menerima zakat). Dalam melaksanakan tugasnya seorang amil harus mengikuti adab-adab amil serta menjaga etika baik terhadap muzaki terlebih kepada mustahik. Untuk itu perlu dicatat bahwa bekerja sebagai amil bukanlah semata-mata hal yang menyenangkan, tetapi juga merupakan pekerjaan yang berat, penuh amanah dan tanggung jawab. Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa Nabi Muhammad saw. mengecam keras seorang yang telah ditunjuk sebagai amil kemudian melakukan tindakan tidak amanah dengan menggelapkan dana zakat yang ia terima, meski hanya sepotong kain. Hal tersebut kemudian menuntut sosok amil yang jujur dan amanah. Dalam bukunya, Dr. Yusuf Qardhawy bahkan menambahkan criteria faqih (mengetahui hukum secara mendalam, terutama dalam masalah zakat) sebagai salah satu syarat menjadi seorang amil.

Di antara etika seorang amil yang perlu dijaga adalah bersungguh-sungguh dalam melakukan tugasnya serta tidak mengambil selain haknya. Jika menuruti keinginan mazhab Syafi’i tentu jumlah 1/8 dana zakat menuntut adanya dua kemungkinan. Jumlah tersebut bisa jadi terlalu kecil bagi lembaga pengelola zakat dengan pendapatan dana zakat tidak seberapa sehingga boleh jadi tidak bisa mencukupi standar hidup layak bagi pekerjanya. Di sisi lain, 1/8 dana zakat adalah jumlah yang sangat besar bagi lembaga pengelola zakat sekelas BAZNAS-Dompet Dhuafa. Sehingga jika bersikeras menuruti pendapat ini, tentulah amil-amil lembaga seperti BAZNAS-Dompet Dhuafa adalah para pekerja social yang mempunyai penghasilan yang cukup besar. Maka kemudian bukan menjadi hal yang tidak mungkin, jika lembaga tersebut menjadi incaran para pencari kerja melebihi perusahaan bonafit.

Untuk itulah, di awal tulisan, saya mewanti-wanti supaya kita bisa menyikapi hal tersebut secara cerdas dan bijak. Kita semua tentu tidak ingin kerja keras amil dihargai hanya dengan pendapatan pas-pasan atau bahkan di bawah standar hidup layak, apalagi hanya ucapan terima kasih. Di sisi lainnya, seorang amil juga tidak pantas memiliki penghasilan yang sangat besar karena kita berhadapan pada kondisi di mana kemiskinan menjadi problem klasik yang tak kunjung usai. Jika ini dibiarkan bukan tidak mungkin apabila muncul kesenjangan baru, tidak lagi antara the have dengan the haven’t, tetapi antara amil dengan mustahik yang lain. Lebih jauh lagi, seorang amil harus merasa takut akan kondisinya yang makmur akan melukai perasaan mustahik yang lain terutama fakir miskin.

Etika beriktunya, seorang amil harus mengupayakan system distribusi sentralistik. Lembaga pengelola zakat semestinya memiliki teritori wilayah yang jelas, dimana zakat dipungut di situlah zakat didistribusikan. Dengan system seperti ini, akselerasi dari goal zakat yakni pemerataan pendapatan (pengentasan kemisikinan) cepat dapat tercapai. Sementara pada kondisi saat ini, kemungkinan overlapping sangat terbuka lebar. Di DKI saja terdapat banyak LAZ dan BAZ yang beroperasi. Dengan begitu, muzaki boleh jadi ‘disatroni’ beberapa lembaga zakat sekaligus. Demikian juga mustahik bisa jadi mendapat bantuan lebih dari sebuah lembaga. Di titik inilah peran pemerintah sangat dibutuhkan, sebagaimana terjemah dari UU 38 Tahun 1999.

Penutup

Di dalam syariat Islam, zakat bukan merupakan satu-satunya instrument untuk meningkatkan kesejahteraan umat. Akan tetapi, zakat yang memiliki sifat wajib lebih memiliki potensi besar untuk melakukan hal itu dibandingkan beberapa yang lain seperti wakaf dan shadaqah yang bersifat sunah. Selain itu, dari segi kuantitas mayoritas penduduk Indonesia adalah muslim bahkan merupakan Negara dengan jumlah penduduk muslim terbesar di dunia.

Keberhasilan sebuah lembaga pengelola zakat dalam mensyiarkan zakat dalam rangka mewujudkan kesejahteraan umat tak bisa dipisahkan dari peran amil sebagai ujung tombak. Amil dituntut untuk lebih proaktif baik dalam upaya menyentuh hati setiap muzaki untuk menunaikan kewajibannya, maupun dalam usaha menjangkau seluruh kaum dhuafa dalam rangka distribusi pendapatan. Pada akhirnya, goal dari zakat bisa dicapai. Tidak hanya membantu kaum miskin papa memenuhi kebutuhanya tetapi betul-betul melepaskan mereka dari kemiskinan untuk selamanya.

Selain itu, amil juga dituntut untuk selalu menjaga etika dalam melakukan tugasnya. Amil zakat jangan sampai bersikap congkak seolah merekalah ‘dewa penyelamat’ kaum miskin. Amil juga seharusnya menjadi sosok teladan kesederhanaan. Dalam konteks manusiawi, amil tidak lantas cepat naik pitam apabila diingatkan, terutama oleh masyarakat. Karena selain ancaman sanksi bagi amil yang menyimpang dari ketentuan UU No.38 Tahun 1999, amil juga mempunyai potensi menyimpang terhadap undang-undang syariat Islam yang tentu memiliki sanksi yang lebih berat kelak di akhirat. Wallahu a’lam bisshawab.

Written by ukasbaik

July 16, 2007 at 2:20 pm

Posted in Artikel

One Response

Subscribe to comments with RSS.

  1. semoga BAZ nasional semakin gencar dalam memasyarakatkan pentingnya berZAKAT bagi kesejahteraaan umat, amin

    one

    August 5, 2008 at 1:54 am


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: