Santri Metropolis

Belajar Menjadi Bijak

Satelite News

leave a comment »

RATUSAN MAHASISWA DAN DOSEN POLITEKNIK GT DIBERHENTIKAN


Kasus pemberhentian dua mahasiswa Polyteknik Gajah Tunggal (GT), Indar Dwi Basuki dan untung Kasirin, melebar. Pihak polyteknik meliburkan ratusan mahasiswa yang melakukan aksi demo solidaritas tanpa batas waktu yang ditentukan.

JATIUWUNG— Tak hanya itu, puluhan dosen pengajar pun turut diminta untuk mengundurkan diri. Tak pelak, kegiatan belajar mengajar mati total. Padahal, sesuai jadwal, para mahasiswa sesaat lagi akan mengikuti ujian. Merekapun mengancam akan melakukan class action (gugatan) terhadap Polyteknik GT.

“Mereka pernah mengadukan persoalan ini ke Komisi B DPRD Kota Tangerang. Namun saat mengadakan hearing (dengar pendapat) beberapa waktu lalu perwakilan mahasiswa tidak dilibatkan. Untuk itu kita memohon kepada Komisi B DPRD untuk mengadakan hearing setidaknya satu kali lagi mengenai persoalan ini,” kata M. Luthfi, kuasa hukum mahasiswa dan dosen Polyteknik GT.

Menurut Luthfi, sebetulnya persoalan ini bisa diselesaikan dengan itikad baik dan kekeluargaan. Namun sayangnya, pihak Polyteknik GT tetap memandang apa yang dilakukan mahasiswa Polyteknik GT sebagai suatu kesalahan yaitu 2 mahasiswa peserta Kontes Robot Indonesia dituduh telah menggelapkan uang Rp. 4 juta yang disubsidi penyelenggara kepada peserta kontes. Padahal uang tersebut digunakan untuk mengganti biaya pembuatan robot dari patungan para mahasiswa. “Setidaknya hal tersebut bukan dalam bentuk DO, jika memang mereka memandang apa yang dilakukan mahasiswa tersebut adalah suatu kesalahan. Tetapi bisa hanya dengan Surat Peringatan (SP) saja,” tandas M. Luthfi.

Lebih lanjut dikatakan M. Luthfi, selaku kuasa hukum mahasiswa Polyteknik, pihaknya akan mengadukan hal ini kepada Komnas HAM karena dirinya menilai persoalan tersebut menyangkut pelanggaran HAM dalam bidang pendidikan. “Itu jelas pelanggaran HAM, karena pihak Polyteknik GT saat ini meliburkan seluruh mahasiswa (137 mahasiswa) tanpa batas waktu, sedangkan mereka sebentar lagi harus mengikuti ujian. Itu namanya ‘menggantung’ mereka, kuliah tidak diurus tidak,” tegasnya.

Namun demikian, pihaknya tetap masih membuka kesempatan kepada pihak Polyteknik GT untuk memandang persoalan tersebut secara bijak. “Dan jika tidak mau mengubah keputusan tersebut (memberhentikan mahasiswa, meliburkan mahasiswa tanpa batas waktu dan meminta dosen untuk mengundurkan diri) kami terpaksa akan mangajukan gugatan (Class Action) kepada Polyteknik GT,” tegas pria berkacamata ini.

Menanggapi hal tersebut, anggota Komisi B DPRD Kota Tangerang, Asep Mulyawan menyesalkan sikap Polyteknik yang tidak membuka pintu musyawarah yang padahal menurutnya, persoalan tersebut masih bisa diselesaikan secara internal dan kekeluargaan. “Mereka (Polyteknik) sangat tertutup untuk melakukan ‘hearing’ dengan mahasiswa dan malah bersikeras untuk mempertahankan sikapnya dengan melakukan tindakanyang sesuai keinginannya,” tandas Asep Mulyawan.

Untuk itu, sebagai komisi yang konsern terhadap masalah pendidikan, Asep Mulyawan berusaha secepatnya untuk kembali memanggil kedua belah pihak untuk melakukan hearing. “kita masih memberikan kesempatan terhadap kedua belah pihak untuk membicarakan kondisi ke depan, tegasnya”. (Har)

Written by ukasbaik

September 5, 2007 at 3:35 pm

Posted in Kisah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: