Santri Metropolis

Belajar Menjadi Bijak

Seputar Indonesia

with 3 comments

NASIB MAHASISWA POLITEKNIK GAJAH TUNGGAL YANG DI-DROP OUT
Minta Bantuan Dana Wali Kota dan Gubernur

SETELAH diberhentikan dari Kampus Politeknik Gajah Tunggal, sebanyak 130 mahasiswa tingkat I dan II kini menganggur. Apalagi, mahasiswa yang kuliah di kampus ikatan dinas ini, rata-rata berasal dari keluarga prasejahtera. “Ada sih rasa malu sama orang tua di kampung, tapi kami juga harus memperjuangkan status sebelum ada surat pemberhentian tertulis dari pihak kampus,” tutur Adi Permana, mahasiswa semester II, Jurusan Teknik Elektro ketika ditemui di Asrama Patigat, Jalan Khoirun Akhmad No.17 RT 01/03, Kampung Ledug, Kel. Alam Jaya, Jatiuwung, Tangerang.

Untuk mengisi waktu luang, mahasiswa asal Kuningan, Jawa Barat ini mengaku lebih memilih berdiam diri di kamarnya seluas 4×2,5 m2. Bukan untuk meratapi nasibnya yang terkatung-katung, Adi bersama rekan-rekan lainnya belajar mendalami sistem komputerisasi. “Siapa tahu, saya bisa bekerja sebagai teknisi komputer, tidak ada salahnya kan, “ujarnya meyakinkan. Begitu juga yang dialami Aud Shalahudin, mahasiswa semester II Jurusan Teknik Elektro asal Cirebon, Jawa Barat. Dia enggan pulang kampung halamannya karena khawatir menambah beban orangtuanya yang kesehariannya bekerja sebagai buruh tani. “Orang tua sudah tahu nasib saya di sini. Untungnya, mendukung perjuangan saya, ” ucapnya.

Bahkan, dia pun enggan “banting stir” mengikuti kuliah di perguruan tinggi lain. Pasalnya, kuliah selama 3-4 tahun di tempat lain memerlukan biaya yang tidak sedikit. Berbeda dengan kuliah di kampus ikatan dinas milik PT. Gajah Tunggal, perusahaan produksi ban ini.

Lalu bagaimana kalian memenuhi kebutuhan sehari-hari? Zainal Abidin, mahasiswa asal Tulungagung, Jawa Timur ini mengaku, hanya mengandalkan bantuan dari saudaranya yang tinggal di Tangerang. Tentu, bantuan ini tidak cukup dalam jangka waktu sebulan. Untuk itu, Zainal dan rekan-rekannya pun memberanikan diri mengirim proposal bantuan dana ke Plt Gubernur Banten Ratu Atut Chosiyah dan Walikota Tangerang Wahidin Halim.
“Terserah, mau uang atau sembako. Yang pasti, kami sangat berterima kasih,” katanya dan diiyakan rekan-rekan yang ada di dekatnya.

Mereka terpaksa meminta-minta karena uang saku yang selama ini ditanggung kampus sebesar Rp. 150.000 – 300.000 per bulan per mahasiswa, secara otomatis terhenti. Padahal, uang ini amat berharga bagi mereka untuk membayar uang sewa kamar dan membeli makanan serta minuman. Namun, ditengah kembang kempisnya kucuran dana, ratusan mahasiswa tetap bertahan untuk meneruskan perjuangan dan demi kebersamaan serta kekompakan. Ini patut diacungi jempol.

Ditempat terpisah, Direktur Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Bela Bangsa sekaligus kuasa hukum mahasiswa, Muhammad Luthfi, mengaku prihatin atas arogansi pihak kampus. Padahal mahasiswa ini sedang semangat-semangatnya mengenyam dunia pendidikan sebagai bekal kerja di perusahaan tersebut.

Luthfi berjanji akan terus memperjuangkan nasib kliennya melalui jalur hukum. Mulai pengiriman surat kepada Walikota Tangerang, Plt. Gubernur Banten. Departemen Pendidikan Nasional, hingga melakukan hearing dengan Komisi X DPR RI. “Saya melihat celah kasus ini bakal berujung ke pengadilan negeri, ucapnya.
(sujoni)

Written by ukasbaik

September 5, 2007 at 3:55 pm

Posted in Kisah

3 Responses

Subscribe to comments with RSS.

  1. Salam…

    Sahabatku Untung…ternyata mengenang kisah lalu itu bisa memotivasi kita untuk berbuat lebih baik…
    Insya Allah sahabat…selepas dari Poltek GT kita bukan pecundang!!
    Tapi
    We’re the WINNER

    Sukses selalu untuk antum semua…

    abang_Tangerang

    September 6, 2007 at 12:50 am

  2. Dear Bro.
    Salam kenal sebelumnya.
    Prihatin sekali rasanya mendengar berita PATIGAT di tutup.
    Padahal saat saya masih di sana (Saya angkatan IX) ada angan agar lembaga ini berkembang lebih besar.
    Tapi satu hal yang harus di pegang, gemblengan mental yang kita alami, harus membuat kita jadi sosok yang tahan banting dalam segala hal (tapi jangan lupa Tuhan).
    Ada banyak sekali rekan2 yang “sukses” tanpa embel2 Patigat.
    Salam kenal juga untuk adik adik / rekan rekan yang lain.
    Salam.
    Yahya D./ IX

    Yahya Domicus

    April 12, 2008 at 2:24 pm

  3. Halo pak Yahya Domicus…
    Masih ingat gak sama aku… yang dulu pernah bareng sama-sama kalau lagi pulang ke Depok. Ini kan Yahya Domicus yang kos-nya di ledug sama pak Hari Lumentah kan? he..he..

    W&W
    Patigat IX

    W&W

    July 30, 2008 at 2:53 am


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: