Santri Metropolis

Belajar Menjadi Bijak

BrotherHood

leave a comment »

BROTHERHOOD (Aku Rindu Persaudaraan)

Ingin kusampaikan kepadamu bila persaudaraan memanggilmu, ikutilah dengan rasa rindu. Walau dalam perjalanan harus melintasi butir-butir duka yang membuta jiwa, didera deru derita sekalipun! Karena rintihanmu yang penuh duka akan berujung pada kebahagiaan yang tak terlukiskan dengan kata-kata.

Bila persaudaraan memelukmu, pasrahkan dirimu kepadanya walau engkau tak mendapatkan harta dan pujian. Bagaikan lilin, kau tebarkan cahaya, walau tubuhnya hancur tak berbentuk.

Persaudaraan sejati bagaikan kaum Anshar yang rela mendahulukan kebahagiaan bagi saudaranya, kaum Muhajirin. Karena bagi perindu ilahi, bukan dunia tempat perhentiannya. Bagi para pencari cinta, justru dalam persaudaraan itu ia dapatkan wewangiannya. Bagaikan lebah yang berjumpa dengan bunga yang merekah. Mereka saling memberi. Lebah yang rendah hati tak akan mematahkan ranting yang dihinggapinya. Sang bunga rela melepaskan putik sarinya karena dengan memberi, ia akan menunggu ranumnya bebuahan. Sang lebah membalasnya dengan madu yang menambah hidup semakin berwarna.

Belajarlah dari mereka tentang makna persaudaraan. Cinta sejati bukanlah ingin mengambil, tetapi bahagia berbagi dan memberi. Bila kau berhitung mengambil keuntungan dari persaudaraanmu, engkau sedang berdagang dengan menampakkan wajah yang memelas dan sapaan yang sopan. Sebuah kepura-puraan yang sejati. Bila tidak diperoleh keuntungan dari pertemuan itu, kau palingkan mukamu dan kau anggap pertemuanmu itu sia-sia. Jiwamu sungguh dangkal dan kering. Menganggap persaudaraan sebagai komoditas, barang dagangan!

Tidak, persaudaraan sejati tidak dapat diukur dengan berapa banyak kau mendapatkan, tetapi berapa banyak engkau memberikan!

Kemudian, kulihat masjid-masjid dibangun saling berdekatan. Kusaksikan para pemuda yang mukhlis menjajakan kotak-kotak derma untuk membangun rumah Tuhan, tetapi dengan hati yang pedih, kusaksikan masjid yang kehilangan ruh. Bagaikan kuburan cina, indah dan mahal bangunannya, luas tanahnya, tetapi sepi dan mencekam ketika malam hari mendekapnya. Di rumah Tuhan, tidak lagi kudapatkan kehangatan akhlak, manisnya persaudaraan dan membaranya api jihad. Syukurlah di hari Jumat, rumah Tuhan sesak pengunjungnya, tetapi sekedar gerak kompak dalam shalat, sabar menahan kantuk dibelai khotbah. Setelah bubar dan masing-masing di antara kita kembali menjadi orang-orang asing, tak lagi peduli siapa jamaah di sebelahnya. Padahal di antara kita ada sepenggal hati yang goncang. Ada perut yang pedih menahan lapar. Ada yang terpenjara dalam belitan utang. Kita belum berjamaah. Bagaikan kerumunan manusia menyaksikan kecelakaan. Mereka saling berkomentar, tetapi masing-masing larut mencekam bahkan enggan bertegur sapa, apalagi membedah jiwa mendengar rintihan saudaranya.

Saat ini kulihat rumah-rumah Tuhan hanyalah terminal tempat kita asyik sendiri melepaskan lelah batin, tanpa memberi ruang untuk tegur sapa dan merendanya dalam cinta persaudaraan. Di rumah Tuhan, tidak ada lagi orang yang kehilangan saudaranya, tidak ada Tanya di manakah gerangan si fulan? Memang suara adzan bersahutan dari menara ke menara, tak lupa dilengkapi loudspeaker paling mutakhir, tetapi hanya mampu mengumpulkan jumlah bilangan manusia, tak mampu mengikat hati mereka.

K. H. Toto Tasmara

Written by ukasbaik

November 1, 2007 at 3:41 pm

Posted in Nasihat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: