Santri Metropolis

Belajar Menjadi Bijak

Imam Syafi’i

leave a comment »

MUHAMMAD BIN IDRIS AS-SYAFI’I

Ulama Quaraisy yang Mengisi Dunia dengan Ilmu

 

Siapa yang tak kenal tokoh yang satu ini? Ia merupakan tokoh yang gilang gemilang dalam sejarah Islam. Salah satu di antara pencetus 4 mazhab yang sangat terkenal dalam dunia keilmuan Islam.

 

Nama aslinya adalah Muhammad. Ayahnya bernama Idris bin Abbas bin Utsman bin Syafi’i yang merupakan keturunan Arab dari kabilah Quraisy. Sedangkan, ibunya bernama Fathimah Al-Adziyyah dari kabilah Yaman. Keduanya menetao di Hijaz.

 

Semasa kecil, Fathimah adalah seorang gadis yang banyak beribadah, memegang agama dengan sangat kuat, taat kepada Rabbnya, cerdas dan mengetahui seluk beluk Qur’an dan Sunnah; baik ushul maupun furu’.

 

Ketika umat Islam tengah berperang membela negeri Islam di kota Asqalan, Idris menyertai istrinya yang sedang hamil menempuh perjalanan jauh menuju kampung Gazah di Palestina. Mereka tinggal di kampung tersebut, dekat dengan Asqalan. Idris berpesan kepada istrinya; “jika engkau melahirkan seorang putra, maka akan kunamakan Muhammad dan akan aku panggil dengan nama salah seorang kakeknya yaitu Syafi’i bin Asy-Syaib.”

 

Apa yang dicita-citakan ayahnya, dikabulkan oleh Allah swt. Pada bulan Rajab tahun 150 H., dari rahim Fathimah lahir seorang anak laki-kali. Ia kemudian diberi nama Muhammad dan dipanggil dengan Asy-Syafi’i. Namun sayang, dua tahun kemudian Idris meninggal. Fathimah akhirnya membawa Syafi’i kembali ke Makkah al-Mukaramah di sebuah kampung bernama Al-Khaif, dekat Masjid al-Haram.

 

Asy-Syafi’i dibesarkan dalam keadaan yatim dan fakir atas bantuan keluarganya dari kabilah Quraisy. Bahkan, ibunya tidak mampu untuk membayar guru tahfidz Al-Qur’an. Namun, melihat kecerdasan Syafi’i dan kecepatan hafalannya, menyebabkan sang guru membebaskan bayaran.

 

Asy-Syafi’i berkata; “Saat aku di kuttab, aku mendengar guruku mengajar—murid-murid—ayat-ayat Al-Qur’an, maka aku langsung menghafalkan. Apabila dia mendiktekan sesuatu, dan belum selesai dia membacakannya kepada kami, aku telah menghafal selurah yang didiktekannya. Maka dia berkata kepadaku suatu hari; “Demi Allah, aku tidak pantas mengambil bayaran dari kamu sesen pun.”

 

Pada usia yang sangat muda, tujuh tahun, Asy-Syafi’i telah menghafal Al-Qur’an, syair-syair dan matan-matan ilmu bahasa. Menyadari keberadaanya di kuttab kurang kondusif bagi keilmuannya, ia memutuskan untuk pergi ke masjidil Haram untuk berguru kepada para Ulama.

 

Dalam usia belia, beliau telah duduk bersama para ulama dalam berbagai bidang di antaranya; Sofyan bin Uyainah dan Muslim bin Khalid Az-Zanji. Karena kefakirannya, Asy-Syafi’i mengumpulkan tulang belulang dan sisa-sisa kertas bekas kantor pemerintahan untuk menulis apa yang dia dapatkan dari gurunya. Tentang menuntut ilmu, beliau menulis sebuah syair,

 

“Ilmu itu bagaikan binatang buruan, sementara tulisan adalah jalanya. Ikatlah bintang buruan kalian dengan jala yang kuat.

Karena sungguh sangat bodoh, bila engkau menangkap binatang buruan, lalu engkau biarkan lepas dengan bebas.”

 

Begitu semangatnya Asy-Syafi’i menulis, lemarinya tak muat lagi menyimpan tulisannya, kamarnya penuh dan tak ada tempat sedikitpun untuk istirahat atau tidur. Oleh karena itu, ia berazam untuk menghafal seluruh yang ia kumpulkan, hingga tak perlu lagi tulang-belulang dan kertas-kertas.

 

Tingkat kemampuan Asy-Syafi’i dalam menghafal sangat luar biasa. Jika dia membuka buku dan ingin menghafal halaman perhalaman, ia menutupi halaman sebelahnya karena takut pandangannya tertuju pada halaman tersebut sehingga ikut terhafal.

 

Meski demikian, terkadang ia masih mengeluh tentang kelemahan hafalannya. Dalam sebait syair ia bercerita;

 

“Aku mengelu kepada Syaikh Waqi’ tentang lemahnya hafalanku, beliau menasehatiku agar meninggalkan maksiat. Beliau menjelaskan bahwa ilmu itu adalah cahaya, dan cahaya tidak mungkin diberikan kepada orang-orang yang bermaksiat.”

 

Dengan kecerdasannya, Asy-Syafi’i telah menjadi ahli tafsir dan menguasai ilmu bahasa Arab. Bahkan, Sofyan bin Uyainah, seorang muhaddits Masjidil Haram jika mendapat pertanyaan yang rumit tentang tafsir dan fatwa fikih, dia menoleh ke arah Asy-Syafi’i sambil berkata; “Coba tanyakan kepada anak itu.” Pada usia 15 tahun, Syaikh Muslim bin Khalid, Syaikh Masjidil Haram telah mengijinkannya untuk berfatwa. Ia juga telah meriwayatkan hadits ketika tinggal di Makkah. Dengan begitu, ia telah mempelajari hadits Makkah, fikih Makkah, hingga ushul dan furu’ ulama ternama Makkah. Dia juga tidak berhenti mendalami bahasa arab pedalaman. Berkata Bisyr Al-Marisi; “Aku melihat seorang pemuda di Makkah jika dia terus hidup, maka dia akan menjadi tokoh yang terkenal se-dunia.”

 

Written by ukasbaik

January 24, 2008 at 3:37 pm

Posted in Profil

Tagged with , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: