Santri Metropolis

Belajar Menjadi Bijak

LuV

leave a comment »

Hal-hal yang pingin kita omongin, atau yang harus kita bilang, justru
malah nggak pernah kita ungkap.
Parahnya lagi, kita terbiasa pake simbol-simbol atau kata-kata lain buat
nunjukin arti sebenernya.
Walhasil, seringnya maksud kita itu jadi nggak terkomunikasikan dan
bikin orang lain ngerasa bete,
nggak disayang, nggak dihargai.

Iya sih, ada saat-saat kita ngerasa nggak nyaman mengekspresikan cinta
yang kita rasa.
Karena takut mempermalukan orang lain, atau diri kita sendiri, kita ragu
buat bilang, “I love you”.
Jadinya, kita menyampaikan perasaan itu lewat kata-kata yang lain; “jaga
diri baik-baik”, “belajar yang bener”,
“hati-hati di jalan”, “jangan ngebut”, “jangan lupa makan”. Tapi,
sebenernya, itu cuma opsi-opsi lain dari perkataan yang sesungguhnya;
“saya sayang kamu”, “saya peduli sama kamu”, “kamu sangat berarti buat
saya”, “saya nggak mau kamu terluka”.

So, nggak ada salahnya kita coba MENDENGARKAN CINTA lewat
kalimat-kalimat yang dikatakan orang lain.
Ungkapan eksplisit itu penting,tapi bagaimana kita mengungkapkannya bisa
jadi jauh lebih penting.
Setiap pelukan bermakna cinta meski kata-kata yang keluar sangat
berbeda. Setiap perhatian yang diberikan orang lain menyimpan cinta
walau bentuknya kaku, atau mungkin kasar. Yang pasti, kita harus mencari
dan mendengar cinta yang ada di baliknya.

Seorang ibu bisa ngomelin anaknya karena nilai rapot atau kamar yang
berantakan. Si anak mungkin hanya mendengar omelannya. Tapi kalo dia
bener-bener MENDENGAR, dia bakal mendapatkan cinta di sana. Kepedulian
dan cinta ibunya muncul dalam bentuk
omelan. Tapi gimana pun juga, itu adalah cinta.

Seorang gadis pulang larut malam, dan akhirnya dapet kuliah gratis dari
bokapnya. Gadis itu cuma nangkep kemarahan sang bokap. Tapi kalo dia
mencoba untuk MENDENGARKAN CINTA, dia bakal menemukannya. “Kamu gimana
sih, Papa jadi khawatir sama kamu,” kata bokapnya. Tau nggak, itu sama
aja dengan “Papa sayang dan peduli sama kamu. Kamu sangat berarti buat
Papa” yang sayangnya, nggak tersampaikan dengan lisan.

Kita mengungkapkan cinta dalam banyak cara-hadiah ulang tahun,
pesan-pesan kecil, dengan senyuman, dengan air mata. Cinta nggak hanya
ada dalam kata-kata, tapi juga dalam diam. Dan seringkali kita
menunjukkan cinta dengan memaafkan orang yang nggak
mau mendengar cinta yang kita sampaikan.

Masalah dalam “mendengarkan cinta” adalah kesulitan dan keterbatasan
kita untuk mengerti bahasa cinta yang dipakai orang lain. Yang kerap
terjadi, kita jarang mendengarkan orang lain. Kita mendengar kata-kata,
tapi kita nggak mempertimbangkan ekspresi atau tindakan-tindakan yang
mengiringi kata-kata itu.
Sering juga kita cuma bisa mendengar hal-hal negatif, penolakan,
kesalahpahaman dan mengabaikan cinta yang menjadi dasarnya.

Dengerin deh, cinta-cinta yang ada di sekitar kita. Kalo kita
bener-bener berusaha mendengarkan, kita bakal temui bahwa kita
sebenarnya memang dicintai. Mendengarkan cinta bisa membuat kita sadar
bahwa dunia ini adalah tempat yang begitu indah.

Cinta adalah anugerah.
Membuat kita tertawa….. .Membuat kita bernyanyi… …. Membuat kita
sedih….. Membuat kita menangis.
Membuat kita bertanya “kenapa?” Membuat kita menerima.,.. .. Membuat
kita memberi.
Dan yang paling penting, membuat kita hidup.

Bukanlah kehadiran atau ketidakhadiran yang penting; kita nggak perlu
merasa kesepian meski kita sedang sendiri.
Sendiri itu perlu, lho. Dan itu jangan sampe membuat kita jadi kesepian.
Yang jadi masalah bukan berada bersama seseorang, tetapi berada untuk
seseorang.

Jangan pernah ragu nyatakan cinta. Jujurlah dengan apa yang kita rasa
dan katakan. Nggak ada ruginya mengekspresikan diri. Ambil kesempatan
untuk mengungkapkan pada seseorang betapa pentingnya dia buat kita.
Lakukan, buat perubahan, hindari penyesalan.

Satu lagi, tetaplah dekat dengan kawan dan keluarga, karena mereka udah
berjasa membangun diri kita yang
sekarang. Cinta memang ada untuk ditebarkan. Dan saat cinta yang kita
berikan diterima, atau dibalas,
itulah saat hidup menjadi penuh makna.

Written by ukasbaik

January 29, 2008 at 12:17 pm

Posted in Guyonan

Tagged with ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: