Santri Metropolis

Belajar Menjadi Bijak

Zakat Uang (Emas dan Perak)

with 6 comments

“Timbangan—yang benar—adalah timbangan mata uang penduduk Makkah”
Muhammad saw.

Zakat emas atau mata uang emas (dinar) dan perak atau mata uang perak (dirham)—untuk selanjutnya disebut zakat uang—adalah termasuk ke dalam jenis zakat harta (zakat maal). Uang pada masa awal perkembangan Islam, terdiri atas mata uang dinar yang terbuat dari emas dan dirham yang terbuat dari perak.

Seseorang yang memiliki harta melebihi nisab uang wajib mengeluarkan zakatnya sebagaimana ditetapkan di dalam Al-Qur’an, as-Sunah dan Ijma’ Ulama terdahulu maupun sekarang. Allah swt. berfirman di dalam Al-Qur’an surat at-Taubah 34-35:

“Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah, maka beritahukanlah kepada mereka (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih, pada hari dipanaskan emas dan perak itu dalam neraka Jahannam, lalu dibakar dengannya dahi mereka, lambung dan punggung mereka, (lalu dikatakan) kepada mereka: ‘Inilah harta bendamu yang kamu simpan untuk dirimu sendiri, maka rasakanlah sekarang (akibat dari) apa yang kamu simpan’.”

Adapun dalam as-Sunah, tersebut dalam shahih Muslim, dari Abu Hurairah, Nabi saw. bersabda:

“Tiadalah bagi pemilik emas dan perak yang tidak menunaikan haknya untuk menzakatkan keduanya, melainkan di hari kiamat ia didudukkan di atas pedang batu yang lebar dalam neraka, maka dibakar di dalam Jahannam, disetrika dengannya pipi, kening dan punggungnya. Setiap api itu padam maka dipersiapkan lagi baginya (hal serupa) untuk jangka waktu 50,000 tahun, hingga selesai pengadilan ummat manusia semuanya, maka ia melihat jalannya, apakah ke surga atau ke neraka.”

Sedangkan dalam riwayat lain dalam hadits Anas tentang diwajibkannya zakat, adalah sebagaimana telah ditulis oleh Abu Bakar ketika mengutus Anas ke Bahrain: “Dan dari mata uang dipungut dalam jumlah 200 dirham 2.5%-nya. Jika tidak mencapai jumlah itu, seperti misalnya 190 dirham, maka tidak ada padanya zakat kecuali jika dikehendaki oleh pemiliknya.”

Adapun Ijma’, kaum muslimin dalam segala zaman telah bersepakat atas wajibnya zakat uang ini dan tidak ada perbedaan pendapat mengenai hal tersebut.

Uang Kertas

Beberapa kurun kemudian, uang tak hanya terbuat dari bahan logam mulia (emas dan perak). Uang diterbitkan dalam bentuk kertas yang biasanya dijamin dengan persediaan emas sebesar yang ditentukan oleh undang-undang buatan manusia.

Di dalam Hukum Zakat, Dr. Yusuf Qardawy menegaskan berdasarkan pendapat mayoritas mazhab bahwa uang kertas pada saat ini memiliki peran sebagaimana yang dijalankan oleh mata uang emas dan perak. Untuk itu, apa yang disyariatkan atas uang emas dan perak juga berlaku pada uang kertas selama uang tersebut berlaku di masyarakat sebagai alat tukar.

Nisab Zakat Uang

Dalam hadits muttafaq ‘alaih disebutkan: “tidak ada pada selain 5 awqiyah sedekah (zakat).” Satu awqiyah sama nilainya dengan 40 dirham sesuai dengan nash yang masyhur dan kesepakatan kaum muslimin. Untuk itu, nisab uang perak adalah sebesar 200 dirham. Jika dikonversi ke dalam satuan yang dipakai dunia secara luas, nisab perak sama nilainya dengan 595 gram.

Adapun tentang nisab uang emas, tidak terdapat hadits sekuat hadits tentang perak. untuk itu, nisab emas belum mencapai kesepakatan sebagaimana perak. Hanya saja, jumhur berpendapat bahwa nisab emas adalah 20 dinar sebagai kepastian sejarah bahwa 1 dinar setara nilainya dengan 10 dirham. Dikatakan oleh Qardawy bahwa nisab emas (20 dinar) sama nilainya dengan 85 gram. Dengan demikian, barangsiapa memiliki uang—jenis uang apapun—yang menyamai 85 gram emas wajib dikeluarkan atasnya zakat sebesar 2½ persen.

Menghitung Zakat Uang

Sebagaimana telah disebutkan di awal, kewajiban zakat uang dikenakan hanya bagi uang (emas dan perak) yang telah mencapai nisab. Nisab untuk dinar adalah sebesar 20 dinar atau senilai 85 gram emas. Sedangkan, nisab dirham atau mata uang perak adalah 200 dirham atau setara dengan 595 gram. Bagi uang yang telah mencapai batas tersebut diwajibkan atasnya untuk ditunaikan zakatnya sebesar 2.5%.

Lalu, bagaimanakah menghitung zakatnya? Apakah zakat langsung dihitung 2.5% dari harta yang telah mencapai nisab? Misalkan sesorang memiliki 22 dinar apakah zakatnya 2.5% dari 22 dinar? Apakah sesederhana itu, ataukah ada ketentuan lain tentang hal tersebut?

Mengenai hal ini, baiklah kita cermati hadits yang diriwayatkan dari para sahabat oleh Anas bin Malik. Ia Ra. Berkata: “Saya diserahi oleh Umar mengurusi zakat, lalu memerintahkan saya memungut dari setiap 20 dinar sebesar 0.5 dinar, sedangkan lebihnya yang sampai berjumlah 4 dinar sebesar 0.5 dirham.”

Jika berpegang pada hadits di atas, kita melihat adanya ketentuan yang unik dari pemungutan zakat uang tersebut yang menunjukkan pola dan aturan tertentu. Aturan tersebut adalah zakat uang dihitung atas uang dengan batas minimal 20 dinar kemudian dijumlahkan dengan 4 dan kelipatannya. Dengan kata lain, zakat 2.5% dikenakan atas pendapatan sebesar 20, 24, 28, 32, 36 dst. Jika jumlah uang bukan merupakan kelipatan 4—25 misalnya—maka zakat dibkenakan hanya untuk kelipatan 4 di bawahnya (pembulatan ke bawah). Dalam hal jumlah uang sebesar 23 dinar, maka yang dizakati adalah sebesar 20 dinar. Dengan kata lain, kelebihan yang tidak mencapai 4 dinar tidak dikenakan zakat.

Secara matematis, hadits Anas bin Malik di atas bisa diturunkan dalam persamaan matematika sebagai berikut:

Ze = 1/40(20+k4)
Ket:
Ze = Zakat Emas
k = bilangan bulat;0, 1, 2, 3 dst

‘Kesalahan Umum’ di Indonesia

Beberapa amil baik pada Lembaga Amil Zakat dan Badan Amil Zakat, melakukan perhitungan zakat uang dengan mengalikan jumlah uang yang telah mencapai nisab (85 gram emas) yang dimiliki oleh seseorang dengan 2½ persen. Hal ini berbeda dengan cara pemungutan yang dilakukan pada masa Umar sebagaimana dijelaskan di atas. Artinya, perhitungan zakat uang yang dilakukan tidak mengikuti pola dan aturan sebagaimana di atas.

Menurut hemat penulis, cara perhitungan zakat uang yang benar adalah dengan mengikuti apa yang dilakukan oleh Umar sebagaimana ditetapkan oleh Rasulullah saw. Untuk mengikuti aturan tersebut, seorang amil harus mengkonversi satuan mata uang (misalkan dollar atau rupiah) ke dalam satuan dinar or dirham. Hal ini sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Rasulullah untuk memakai timbangan mata uang penduduk Makkah. Rasulullah saw. bersabda:

“Timbangan—yang benar—adalah timbangan mata uang penduduk Makkah”

Kesetaraan jumlah uang rupiah, gram emas dan dinar yang dikenakan kewajiban zakat penulis ilustrasikan sebagaimana tabel berikut:

Tabel 1.
Besar Harta dan Zakatnya dalam Dinar, Gram dan Rupiah

Studi Kasus

Untuk lebih memahami apa yang penulis sampaikan, baiklah pembaca mencermati studi kasus berikut.
Nona Hani menyisihkan sebagian penghasilannya setiap bulan dan dititipkan kepada Bank Muamalat Indonesia mulai awal tahun 1431 H. Pada bulan Muharram 1432, jumlah tabungan Nona Hani mencapai Rp 81,819,860.00. Sebagai muslimah yang taat, Nona Hani berkeinginan menunaikan kewajibannya membayar zakat uang. Nona Hani kemudian mendatangi Lembaga Amil Zakat Amanah. Berapakah zakat yang dikeluarkan Nona Hani?(Asumsi harga 1 dinar = Rp 765,000.00)

Penyelesaian:
1. Jawaban yang benar

Untuk menghitung berapa besar harta yang wajib dizakati, terlebih dahulu kita harus mengkonversi mata uang rupiah ke dalam dinar atau gram emas sebagai berikut (lihat tabel):
Dinar = 81,819,860.00 : 765,000
= 106.9
Untuk mencari berapa dinar yang dizakati, bulatkan angka 106.9 kepada angka kelipatan empat di bawahnya yang paling dekat (sekali lagi lihat tabel 1.), yaitu 104.
Zakat uang yang harus dibayar = (104:40)x765,000
= Rp 1,989,000

2. Jawaban yang ‘salah’

Karena uang tabungan Nona Hani telah mencapai nisab, yakni 20 dinar atau 85 gram emas atau Rp 15,300,000.00 maka dia wajib membayar zakat.

Zakat uang Nona Hani = Rp 81,819,860.00 : 40
= Rp 2,045,497.50

Terjadi selisih bayar perhitungan zakat cara Umar dengan cara amil Indonesia sebesar = Rp 2,045,497.00 – Rp 1,989,000
= Rp 56,496.50

Written by ukasbaik

January 29, 2008 at 9:02 am

Posted in Artikel

Tagged with , , , ,

6 Responses

Subscribe to comments with RSS.

  1. Tulisan ini masih belum selesai. Saya masih mencari referensi tentang keshahihan riwayat Anas bin Malik tentang perintah Umar dalam memungut zakat. Insya Allah, saya sudah konsultasi dengan Ustadz Sunali, beliau bilang siap membantu.

    Bagi pembaca yang memiliki referensi kitab Muhalla, mohon bisa hubungi saya untuk dipinjamkan. Syukur-syukur kalau mau ngasih.

    ukasbaik

    February 6, 2008 at 10:46 am

  2. Ass. Saya ingin meminta izin untuk mencopy artikel yang terdapat di laman ini sebagai bahan karya tulis dalam rangka Lomba Karya Tulis Mahasiswa yang diadakan BEM FE Universitas Negeri Semarang. Atas Kesediannya Sebelumnya saya ucapkan banyak terima kasih. Rudy K. Mahasiswa Fakultas Ekonomi. Jurusan Ekonomi Pembangunan Universitas Negeri Semarang. Wass

    Rudy K

    May 17, 2008 at 10:32 am

  3. Waalaikumussalam. Silahkan! Semoga sukses!

    ukasbaik

    June 2, 2008 at 3:18 pm

  4. assalaamu’alaikum wrwb,

    ana mau tanya ne, 1 gram perak berapa ya?
    dalam rupiah

    syukron jaziilan
    abu fatimah

    hasan

    July 25, 2008 at 3:41 am

  5. #-o

    bismillah,
    kok jadi malah tambah ruwet sih mas, kenapa ngga gini aja:
    uang rupiah (atau kertas) yang disimpan untuk waktu yang cukup lama (misalnya untuk persiapan haji, deposito, tabungan untuk sekolah anak2 kuliah nanti) yang disimpan di bank (baik konvesional atau “syariah”)dikonversi ke koin dinar emas atau dirham perak sekalian. jadi tiap tahunnya dah jelas dan sederhana berapa dinar atau dirham harta yang harus dikeluarkan (setelah melewati 20 dinar emas atau 200 dirham perak).

    disamping itu juga konversi ini untuk menghindari penurunan daya beli bila uang tetap disimpan dalam bentuk kertas (terkait rupiah, selain termasuk kategori riba, uang kertas mengalami penurunan daya beli mencapai 25-30% per tahun; tren sejak tahun 2000-2007).

    kalau dimasukkan ke ilustrasi nona Hani di atas, kekayaan yang tidak digunakan dalam jangka pendek ini adalah Rp 81,819,860.00 kemudian dikonversikan ke dinar emas; hari selasa okt 28 2008 dari situs http://www.islamhariini.org atau http://www.wakalanusantara.com 1 dinar emas = Rp 1,144,307,- maka nona Hani bisa memiliki 71.5 keping dinar emas.

    maka zakat maal yang harus ditunaikan oleh nona Hani adalah (dengan mengambil referensi amal ahl al-Madinah, yang diambil dari kitab al-Muwatta imam Malik, radiyallahu anhu)

    2.5% * 60 dinar = 1,5 dinar emas
    sementara yang 11,5 dinar tidak terkena zakat maal, karena secara amal yang dipraktekkan di Madinah tarikan minimal zakat adalah tidak kurang dari 1/3 dinar (setelah kelipatan 1/2 dinar sebelumnya; misalnya dari 33.5 = 20+13,5 dinar maka yang dikeluarkan adalah 1/2 + 1/3 dinar). lihat di kitab al-Muwatta imam Malik, bab 17~Zakat-bagian 9-point 20.

    jadi nona Hani tidak perlu pusing2 ngitung pake rumus yang ruwet2 dan ngga perlu juga nunggu kkeputusan MUI tentang berapa nisab zakat maal tahun ini. setelah lewat 1 tahun qomariyah, dihitung lagi jumlah uang yang tersisa dengan kelipatan perhitungan yang sama.

    selamat mengamalkan.

    husayn

    October 29, 2008 at 2:37 am

  6. thank dah ambil. pas banget kek mkucari2

    Muhammad Fadli

    April 14, 2009 at 2:48 pm


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: