Santri Metropolis

Belajar Menjadi Bijak

Muhammad bin Idris As-Syafi’i (Part II)

with 2 comments

Berkelana demi Ilmu

As-Syafi’i gemar sekali mengadakan perjalanan demi menemui ulama dan menimba ilmu dari mereka. Di sana ia belajar, mendengar sastrawan dan penyair serta melihat kondisi umat Islam. Ia berkata:

”Tidak ada tempat bagi orang-orang cerdas dan beradab untuk istirahat. Maka tinggalkanlah kampung halaman dan merantaulah! Engkau pasti akan mendapat ganti atas apa yang engkau tinggalkan.

Dan gatilah pekerjaan dengan yang baru, karena kelezatan hidup ada dalam pekerjaan baru. Aku melihat bahwa air yang menggenang itu akan rusak. Jika air itu mengalir maka akan baik. Sementara jika ia menggenang akan rusak.”

Perjalanan As-Syafi’i

Dari kota Makkah, ia mengadakan perjalanan ke Madinah untuk menemui Imam Malik dan Muwaththa’nya. Di sana beliau mendiktekan kitab Muwaththa’ karangan Imam Malik yang telah dihafalnya. Kejadian ini membuat Imam Malik kagum.

Dari Madinah, ia bertolak ke Iraq tempat Abu Hanifah dimakamkan. Ia mendengar bahwa Imam Hanafi banyak sekali meninggalkan kitab dan ulama. Di sana ia bertemu dengan Abu Yusuf dan Muhammad bin Hasan, murid Abu Hanifah. Bahkan, Ibnu Hasan mengijinkan As-Syafi’i tinggal di rumahnya dan menulis seluruh kitab koleksinya.

Dari Iraq, As-Syafi’i kemudian menuju ke negeri Persia dan sekitarnya dengan bekal 3000 dinar dari Ibnu Hasan. Dalam perjalanan ini, kelimuan As-Syafi’i bertambah secara drastis dengan mengawinkan bekal ilmunya dengan melihat realita umat.

Setelah begitu lama di rantau, kerinduan As-Syafi’i kepada gurunya, Imam Malik begitu kuat. Akhirnya, ia memutuskan untuk kembali ke Madinah. Ketika sampai di Madinah, Imam Malik pada saat itu sedang duduk di kursinya mengajar murid-muridnya. Melihat As-Syafi’i berada di tengah majlisnya, ia turun dan memeluk As-Syafi’i seraya berkata; ”Teruskan pelajaran wahai As-Syafi’i.”

Ketika di Madinah, As-Syafi’i mendapat undangan dari salah satu saudaranya yang bekerja di Yaman. Oleh saudaranya, ia ditawari pekerjaan di bidang peradilan. As-Syafi’i kemudian menerima pekejaan tersebut dan melakukan tugasnya dengan baik. Prestasi ini terdengar hingga ke Makkah melalui jamaah haji yang berasal dari Yaman. Ia kemudian diangkat menjadi hakim di Najran. Selama di Yaman, tidak banyak yang dilakukan As-Syafi’i dalam ilmu pengetahuan. Ia menikah dan dikaruniai anak.

Setelah beberapa tahun di Yaman, As-Syafi’i kemudian kembali ke Makkah dan membentuk halaqah ilmu baru di Masjidil Haram. Halaqah ini menarik perhatian banyak ulama dan pelajar, seperti Imam Ahmad bin Hambal yang berguru kepada As-Syafi’i.

Tak puas mengajarkan ilmunya di Masjidil Haram, As-Syafi kembali ke Baghdad. Ia menetap di Masjid al-Jami dan membentuk halaqoh. Orang-orang berbondong-bondong menghadiri halaqahnya. Ahmad bin Hambal berkata; ”Sebelumnya para ahli hadits tidak banyak mengetahui makna yang terkandung dalam hadits RasuluLlah saw., lalu As-Syafi’i menjelaskannya.”

Setelah lama menetap di Baghdad, As-Syafi’i berkeinginan kuat untuk mendatangi negeri Mesir. Maka, ia kemudian berpamitan kepada murid-muridnya, termasuk Imam Ahmad bin Hambal;

”Sungguh jiwaku sudah sangat rindu kepada Mesir, kota penting padang pasir. Aku tidak tahu apakah kepergianku ini untuk sebuah izzah atau untuk kekayaan. Aku digiring kepadanya, atau jusrtu digiring menuju liang kubur.”

Sampai di Mesir, As-Syafi’i kemudian mengajarkan ilmunya di Masjid Amru di Fustath. Pelajarannya di mulai ba’da shubuh dan berakhir waktu dzhuhur. Di masjid ini, ia mengajar Al-Qur’an, hadits, fiqih, dan sastra. Di sinilah As-Syafi’i menghabiskan sisa usianya. Beliau wafat pada bulan Rajab 204 H pada usia 54 tahun. Penduduk Mesir menziarahi makamnya terus menerus hingga 40 hari 40 malam.

Karya As-Syafi’i

Semasa hidupnya, As-Syafi’i banyak sekali menghasilkan karya berupa kitab-kitab dalam berbagai bidang seperti Al-Qur’an dan Hadits, Fiqih, dan Sastra. Di antara karya-karya Imam Syafi’i antara lain; Ar-Risalah, Al-Umm, Al Imlah As-Shaghir, Al Amali al Kubro, Mukhtasar Al Buwaithi, Mukhtasar Al-Muzani dan sebagainya. Imam Syafi’i juga mewariskan kumpulan syair dalam kitab yang sangat tebal.

Ciputat, Selasa 5 Februari 2008 08:19 WIB.

 

Written by ukasbaik

February 6, 2008 at 8:15 am

Posted in Profil

Tagged with ,

2 Responses

Subscribe to comments with RSS.

  1. Assalamu’alaikum
    Dengan rasa gembira setelah membaca ini, oleh karena para shohib dimana saja berada , harap berkenan membri habar kepada alfaqir terkait pendaftaran mahasiswa baru (beasiswa) tahun kuliah 2008-2009 pada perguruan tinggi di timur tengah khususnya Al-Azhar Mesir dan Al-Ahghof Yaman. Demikian yang sementara ana butuhkan. semoga secepatnya ada jawaban.
    Wassalamu’alaikum

    Miftahul Mufid

    March 30, 2008 at 4:01 pm

  2. Waalaykumussalam Warahmatullahi Wabarakatuh

    Terima kasih telah berkunjung. Mohon maaf, untuk informasi beasiswa kuliah di Timur Tengah ana kurang informasi. Bisa akhi tanya (cari) ke Paman Google langsung. Jazakallah khair

    wassalam

    ukasbaik

    April 30, 2008 at 3:46 pm


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: