Santri Metropolis

Belajar Menjadi Bijak

Kepompong Ramadhan

leave a comment »

Pernah dimuat di kolom HIKMAH harian Republika, 27 Agustus 2008

Dalam terminologi fiqih, shaum ‘puasa’ adalah aktivitas ibadah dengan menahan diri dari sesuatu yang membatalkannya (seperti makan, minum, dan ‘berhubungan’ suami istri), dari terbit fajar hingga terbenamnya matahari. Di dalam surat Al-Baqarah ayat 187 Allah SWT berfirman, “Makan dan minumlah kalian hingga terang bagimu antara benang putih dari benang hitam, yaitu fajar.”

Setelah melalui puasa Ramadhan, individu muslim diharapkan meraih kesempurnaan diri yang dikenal dengan istilah ‘taqwa’. Di dalam surat yang sama ayat 183 dikatakan, “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana (telah) diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa.” Perihal ketaqwaan, Alquran menyebutkan, “Sesungguhnya orang yang paling mulia di sisi Allah (adalah) yang paling baik taqwanya.”

Mengapa dengan puasa seseorang bisa berevolusi menuju kesempurnaan diri? Jawabannya ada pada makna dan manfaat yang terkandung dalam ibadah puasa itu sendiri. Pertama, manfaat fisik. Selama proses puasa, di dalam tubuh hanya terdapat sedikit zat makanan dalam proses pencernaan. Hal tersebut kemudian ‘memaksa’ tubuh melakukan pembakaran lemak dan zat-zat yang berbahaya (toksin). Banyak ahli kesehatan yang menganjurkan puasa atau yang mirip dengannya seperti diet sebagai terapi bagi pasien dalam menjaga kesehatan.

Kedua, puasa sebagai pendidikan mental. Dengan puasa, seseorang dididik untuk bersabar dan melatih kedisiplinan. Untuk kembali makan dan minum (berbuka), kita harus bersabar hingga waktu maghrib tiba. Puasa juga menuntut kita berdisiplin dalam berbagai hal seperti waktu sahur, berbuka, shalat tarawih dan tilawah Alqur’an.

Ketiga, manfaat moral-spiritual. Puasa membangun ketaqwaan dan keikhlasan. Dengan ketaqwaan, manusia akan memperoleh kasih sayang, ampunan, diberi kemudahan menghadapi masalah kehidupan, dijauhkan dari api neraka dan mendapat kebahagiaan abadi, surga. Puasa juga melatih kita berempati terhadap sesama dengan menahan rasa lapar seperti yang dialami jutaan manusia yang hidup dalam kemiskinan dan kelaparan.

Dalam kehidupan, puasa ibarat perubahan biologis makhluk hidup menuju bentuk sempurna yang disebut dengan metamorfosis. Dari seekor ulat yang bagi kebanyakan orang dianggap menjijikan, berubah secara bertahap ke dalam wujud kepompong. Akhirnya, lahirlah kupu-kupu, serangga cantik rupawan yang dicintai banyak orang. Maka tidak salah kiranya jika menyebut orang yang berpuasa dengan metafor ‘Kepompong Ramadhan’.

Written by ukasbaik

August 29, 2008 at 1:02 pm

Posted in Uncategorized

Tagged with , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: