Santri Metropolis

Belajar Menjadi Bijak

Sebuah Catatan Kenangan: Menentang Kediktatoran Kampus

leave a comment »

Kontributor: Saidurrahman (Ketua BEM Politeknik Gajah Tunggal 2006-2007)

“Innalillahi….,”

Kudengar desis tersebut keluar dari bibir Zeal. Termasuk aku, dalam hati kami semua tertanam rasa benci yang sangat dalam kepada pihak kampus atas adanya efek yang nggak kami semua harapkan.

“Kita harus gimana Zeal?” tanyaku kemudian.

“Akh, antum kan ketua DEMA. Malam ini kita harus koordinasi internal. kesewenangan yang makin menjadi ini tak bisa dimaafkan,” jawab Zeal berapi – api.

Rasa kesal yang membuncah akhirnya membuatku kabur dari materi olahraga sore ini di kampus. Betapa tidak seperti tadi yang kuungkapkan, kesewenangan pihak kampus terhadap kami , anak – anak desa yang “dijaring” lewat seleksi ketat untuk mengikuti pendidikan kedinasan, semakin menjadi – jadi.

Mungkin ini puncak dari semuanya. Dua teman kami, yang sama – sama kami berjuang untuk mengharumkan nama baik Politeknik Gajah Tunggal, kampus yang kami sayangi, serta nama baik Gajah Tunggal Grup sebagai institusi tempat kami bernaung dan menimba ilmu, harus di DO dengan tidak hormat.

Tentu dengan alasan, yang bagi kami merupakan alasan yang sangat di cari – cari dan dibuat – buat. Bisa dibilang FITNAH. Hingga wajar saat melihat wajah Wilders, pembuat film FITNA, kembali terbayang dibenakku wajah direktur dictator di kampus kami yang sekarang entah dibuang kemana. MIRIP.

Untung Kasirin dan Indar Dwi Basuki. Bendahara dan Ketua Tim KRI Politeknik Gajah Tunggal (selanjutnya disingkat Poltek GT) tersebut harus menelan pil pahit atas ketidak senangan Mr Big (sorry – disamarkan)  terhadap mereka.

12 Juni 2006 Surat Keputusan DO itu turun. Surat yang kami bilang aneh karena tak seperti SK DO sebelum – sebelumnya. Tak ada keputusan mengganti sejumlah uang atas ditempuhnya masa belajar di kampus, bahkan terdapat kata – kata yang mengizinkan revisi atas SK DO tersebut jika terjadi hal – hal yang tidak diinginkan yang berakibat SK DO tersebut kami rasa tidaklah kuat.

Perjuangan Tim KRI Poltek GT sudah dimulai dua tahun sebelumnya oleh dua angkatan kakak tingkat kami. Mungkin karena kehendak Allah SWT, baru di kali ketiga dan artinya di angkatan kami tim KRI Poltek GT bisa lolos berbagai verifikasi hingga akhirnya berhak maju ke pertandingan kualifikasi di Balairung UI bulan Mei 2006.

Sebuah perjuangan yang melelahkan tentunya saat teman – teman kami tersebut berjibaku dengan kabel, obeng, baut, perangkat PLC, dynamo, joystick, dan peralatan pendukung lainnya. Menggambar, menghitung, hingga membuat rancang bangun sebuah robot yang layak untuk lolos dalam verifikasi.

Allah, tanpa petunjuknya mungkin tak bisa prestasi yang besar buat kampus yang bahkan terdengar pun tidak di kalangan penjual es di Jatake Tangerang. Masa – masa sulit mencari sponsor dana hingga tim KRI harus berhutang jutaan rupiah adalah perjuangan besar untuk mewujudkan mimpi kami semua, menunjukkan pada dunia bahwa kami adalah anak – anak terpilih dan anak – anak terbaik yang harus DIHARGAI.

Tak ada tanda – tanda mendukung penuh perjuangan kami dari kampus sepertinya saat sebelum kami dinyatakan lolos verifikasi. Aku sebagai ketua Dewan Mahasiswa (DEMA) terpilih yang saat itu belum sempat dilantik hanya karena terbentur birokrasi akibat posisi ketua DEMA yang lama sedang menempuh Praktek Kerja Lapangan (PKL) tak bisa diganggu gugat. Padahal masih berada dalam satu kompleks yang tak butuh 10 menit untuk datang ke kampus. Aku mencoba menggalang dana lewat subsidi dari uang saku yang kami semua terima, yah walupun tak seberapa jumlahnya dan tentu tak sebanding dengan tumpukan hutang yang harus dilunasi kewajibannya segera.

Tak banyak yang kami harapkan dari pihak kampus. Hanya kelonggaran birokrasi dan dispensasi atas masa magang industry yang harus kami lewati saja. Berbelit memang, dan seperti itulah kondisi di kampus kedinasan. Tapi sekali lagi Allah maha Adil. Perjuangan, doa, dan tetes – tetes keringat sahabat – sahabatku baik di Teknik Elektro maupun Teknik Mesin dibalasNya dengan lolosnya verifikasi awal.

Alhamdulillah….

Namun, kami tak boleh larut dalam senyum kepuasan atas ujian ini. Masih banyak yang harus kami benahi atas revisi kondisi robot kami. Waw, dan tentunya makin banyak dana yang harus dikeluarkan. Untunglah, pihak panitia menyediakan sejumlah uang untuk setiap tim yang lolos verifikasi yang dibayarkan setelah KRI selesai dilaksanakan. Ini artinya, kendati kami harus berhutang setidaknya ada ketenangan bahwa hutang tersebut bisa dibayar dari uang yang diberikan panitia tersebut.

Lolosnya babak verifikasi ini ternyata sedikit mebukakan mata pihak kampus terutama Mr Big. Entah ada apa dibalik semuanya, Mr Big berubah drastic menjadi perhatian pada aktivitas dan perjuangan kami menuju KRI Tingkat Nasional tersebut. Sebelumnya tak usah pembimbing, pendamping pun kami nggak punya. Selain karena tak mampu membayar, tentunya lebih ahsan bagi kami berkonsultasi dengan dosen – dosen kami.

Dimasa tersebut Mr Big segera membentuk tim khusus di kalangan dosen untuk mendampingi dan membimbing kami. Yah, akhirnya kami melihat sinar keseriusan dan dukungan penuh dari seluruh dosen – dosen kami. Dan Mr Big menggelontorkan sejumlah uang yang katanya tak perlu diganti nantinya untuk mendukung usaha kami.

Mengenai kesewenangan dan ketidak adilan Mr Big sepertinya tak perlu banyak diungkapkan. Yang hanya perlu diketahui bahwa sejak Mr Big menjabat sebagai direktur Poltek GT kegiatan yang berhubungan dengan kemahasiswaan menjadi SERET. Bahkan tak ada dana sedikitpun untuk pengembangan keorganisasian, UKM, dan Olah Raga. Sekedar contoh, untuk membeli bola basket dan bola voli, kami hanya mengandalkan sisihan dari uang saku yang tentunya tak seberapa. Termasuk untuk kegiatan lain seperti Dewan Mahasiswa, ROHIS, Koran Dinding.

Tak layak sepertinya disebut kampus karena seperti di tempat lainnya selalu ada alokasi dana kegiatan kemahasiswaan, di Poltek GT semasa kepemimpinan Mr Big begitu miskin aktivitas. Tapi sobat, tak seperti itu yang ada pada jiwa kami semua. Karena kuyakin bahwa teman – temanku di kampus tersebut adalah anak – anak berprestasi, kami masih bisa mengadakan acara – acara sejenis dauroh, mengikuti berbagai organisasi di luar kampus, dan sebagainya.

Ini tak lain karena kasih sayang dan support dari kakak tingkat kami yang sudah menjadi alumni dan sudah bekerja di lingkungan Gajah Tunggal Grup. Sebuah ikatan persaudaraan yang tak bisa diungkapkan dengan kata – kata. Walaupun demikian, harus kuakui dimasa Mr Big menjabat prestasi di berbagai bidang lewat beberapa kontes serta kompetisi nasional prestasi kami tak sebaik kakak – kakak tingkat kami dahulu.

Oleh karenanya, layak kami berbangga atas masuknya tim kami ke Babak Kualifikasi Kontes Robot Indonesi 2006 di Balairung Universitas Indonesia. Berjuang – bertarung dengan sahabat – sahabat kami di berbagai belahan Indonesia untuk mendapatkan tiket menuju ABU ROBOCON 2006 di Kuala Lumpur.

*           *            *

Malam belum tampak larut. Sehabis silaturrahim dengan alumni, aku, Zeal ketua ROHIS, serta fungsionaris DEMA dan Rohis angkatan sebelumnya berkumpul di musholla Lt.3 Gedung B Asrama kami untuk membicarakan reaksi yang akan kami berikan terhadap keputusan dan kesewenangan Mr Big.

Rapat yang juga terbuka untuk seluruh penguhuni Asrama tersebut ternyata berjalan alot. Aku tak menyangka sahabat – sahabatku yang lainnya begitu antusias. Aku rasa tak lain ini dilatar belakangi oleh rasa senasib dari kami semua sebagai anak – anak miskin di tanah perantauan.

Sobat tentu bisa membayangkan bagaimana nasib kedua teman kami yang dikeluarkan terlebih dengan alasan tak hormat yang tentunya akan menimbulkan fitnah di mana – mana. Akhirnya disepakati bersama bahwa esok kami akan mengadakan aksi menuntuk keadilan di lapangan basket kampus.

Pagi menyapa dengan cerah dibarengi dengan semangat  pemuda – pemuda tangguh yang telah berbaris rapi di halaman asrama. Subhanallah… aku tak menyangka sms jarkom yang dikirim ke seluruh mahasiswa 2 angkatan ternyata direspon sangat baik. Buktinya, 100 % mahasiswa angkatan 23 dan 24 dapat disatukan padahal tak semuanya tinggal di asrama.

“Assalamu’alaikum dan Semangat Pagi!!!” Gito, Koordinator Lapangan yang kutunjuk, memimpin barisan dan membuka apel pagi yang tak biasa ini dengan penuh semangat.

“Teman – teman, seperti yang kalian ketahui bahwa telah terjadi tragedy yang tidak kita semua inginkan yang diakibatkan kesewenangan Mr Big,” Gito mulai berorasi. “Karenanya hari yang indah ini, saya mengajak teman – teman semua untuk menorehkan sejarah memberantas segala tindak kelaliman yang terjadi di kampus kita. Hidup Mahasiswa!!!”

“Hidup Mahasiswa!!!”

Seketika halaman asrama menjadi bergemuruh oleh teriakan – teriakan penyemangat bahwa kami siap berperang

Written by ukasbaik

November 9, 2008 at 3:19 pm

Posted in Kisah

Tagged with , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: