Santri Metropolis

Belajar Menjadi Bijak

Etika Berbicara di depan Publik

with one comment

Kamis sore, saya mengikuti sebuah seminar di sebuah kampus negeri. Sebenarnya, waktu itu adalah waktu kuliah. Karen dosen mata kuliah yang bersangkutan kebetulan menjadi narasumber, jadilah kami (saya dan teman sekelas) peserta ’istimewa’ seminar tersebut. Ya, istimewa karena kami tidak perlu mendaftar, tapi sebagian dari kami bisa dapat tempat duduk paling depan. Istimewa juga karena tidak perlu membayar biaya pendaftaran, tetapi mendapat jatah konsumsi..:-). Namun sial bagi saya dan teman-teman yang datang terlambat. Kami tidak mendapat tempat duduk. It’s ok. Orang yang terlambat memang pantas untuk tidak mendapat tempat duduk.

Seminar itu membahas tentang tantangan ekonomi Islam menghadapi Krisis Ekonomi Global. Sebuah tema yang sangat menarik, berat, bahkan membuat sebagian orang yang mendengarnya mungkin akan mengerutkan kening. Apalagi bagi mereka yang awam dengan ekonomi Islam. Karena ternyata, di luar sana—maksudku di luar kampus ekonomi Islam ini, banyak sekali makhluk bernama manusia yang masih sangat awam dengan ekonomi Islam. Bagi saya, kondisi ini membuat saya beruntung (bukan karena nama saya Untung) hidup di kampus Ekonomi Islam tertua kedua di Indonesia (menurut teman saya: Haritsma). Posting ini sama sekali tidak bertujuan membahas isi seminar. Akan tetapi, menyoroti bagaimana prosesi seminar tersebut.

Bagi peserta yang sudah mengetahui bagian paling dasar (elementer) dari ekonomi Islam, apalagi bagi kami yang setiap hari memang mengkaji ekonomi Islam di dalam kelas (maaf, sama sekali tidak bermaksud sombong), materi yang disampaikan dalam seminar tersebut adalah materi yang sering kami bahas di kelas. Wal hasil, kami seperti merasa di rumah sendiri, hanya dalam sekup yang lebih besar, kurang lebih 200 orang. Bagi saya, pemateri makalah (dosen saya dan seorang lagi yang katanya mantan Presnas (Presidium Nasional) FoSSEI (Forums Silaturahim dan Studi Ekonomi Islam) sangat tepat dengan menjelaskan logika dasar dari ekonomi Islam, mengingat bahwa para peserta adalah awam.

Yang menarik perhatian saya adalah ketika salah seorang peserta, teman saya sendiri ’mengkritik’ (untuk tidak dikatakan sebagai ’menjatuhkan’). Beliau mengatakan kepada pemateri bahwa materi yang disampaikan kurang substansial dan tidak meninggung akar masalah sebenarnya, yang menurut saya justru sebaliknya. Pernyataan seperti ini menurut hemat saya, memiliki dampak yang kurang baik (untuk tidak dikatakan sebagai negatif). Ok. Bahwa menurut beliau materi yang disamapaikan tidak substansial adalah benar jika beliau berbicara dalam kapasitasnya sebagai pengkaji ekonomi Islam. Untuk beliau, jika membaca posting ini saya sarankan, ”kalau menginginkan pembahasan masalah yang lebih sering-seringlah antum ikut kajian”. Jadi tidak timpang dengan peserta lain. Pernyataan beliau bahwa pembicara kurang substansial, lagi-lagi menurut hemat saya bisa mengurangi kredibilitas dosen tersebut di mata publik, karena secara tidak langsung al akh mengatakan bahwa pembicara dibayar untuk mengatakan sesuatu yang mubazir. Padahal setelah saya cek, ternyata pembicara (sang dosen) sudah sangat tepat menyampaikan apa yang seharusnya beliau sampaikan. Karena, materi beliau akar krisis global tapi lebih ke arah ’bisnis (entrepreneur) sebagai alternatif dalam kondisi krisis’. Yang seharusnya menyampaikan akar krisis global memang menjadi tugas pembicara yang kedua.

Sebagai penutup, saya mengajak kepada seluruh pembaca, blogger, netter dan sejenisnya, agar lebih bijak ketika kita ingin berbicara atau berpendapat di depan publik. Setiap orang memang memiliki hak untuk berbicara, sepanjang tidak menyinggung orang lain, apalagi dalam kontek yang ’diserang’ adalah pembicara utama. Apalagi, kita berbicara dalam forum yang sangat-sangat Islami. Afwan (maaf) jika posting ini menyinggung pihak-pihak tertentu.

Written by ukasbaik

November 21, 2008 at 4:31 am

Posted in Kisah

Tagged with ,

One Response

Subscribe to comments with RSS.

  1. lidah yang tak bertulang kadang menyakitkan.
    So, hati-hati dengan lidah Qt. Buat makan, jangan yang terlalu bersuhu ekstrim (panas, atau dingin). Kasihan [lha koq, apa kaitannya? He…he..]

    duniabaruku

    January 21, 2009 at 5:14 pm


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: